KECEMASAN (ANXIETAS)
ROLE PLAY
Untuk Memenuhi Tugas Kebutuhan Harga Diri
Dosen Pembimbing : Bambang Edi Warsito, S.Kp.,M.Kes.
Disusun Oleh:
Khoirun Nisa
22020115120036
A. 15 2
DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
Kasus
Pada tanggal 5 September 2016 Ny Yulli 25 tahun terdiagnosa kanker mamae stadium awal. Ny Yulli tampak gelisah. Ny Yulli merasa sedih dengan kondisinya. Ia merasa takut dan tidak berani memberitahu kondisinya kepada suaminya. Ia merasa bila nanti suaminya mengetahui kondisinya maka suaminya tidak sayang lagi dengannya dan bahkan tidak cinta lagi. Ny Yulli merasa cemas berhari-hari memikirkan hal itu. Ny Yulli tidak nafsu makan selama beberapa hari dan tidur juga tidak nyenyak. Pada tanggal 8 September 2016 Ny Yulli memutuskan untuk berkonsultasi dengan perawat. Kemudian, Ny Yulli membuat janji dengan Nurse Nisa untuk berkonsultasi mengenai masalahnya pada tanggal 10 September 2016.
Role Play
Pada tanggal 10 September 2016 pukul 10.00 WIB, Ny Yulli ke ruangan Nurse Nisa di sebuah Rumah Sakit X
P : (tok,tok,tok......) “Selamat pagi Nurse.”
N : “Selamat pagi, silahkan duduk mbak, ini benar mba Yulli?”
P : “Iya nurse, saya Yulli yang kemarin membuat janji untuk berkonsultasi, ini benar nusre Nisa?.”
N : “Oh, iya mbak Yulli, saya Nurse Nisa. Kita kontrak dulu ya mbak, untuk waktunya 30 menit dan tempatnya di ruangan ini saja ya mbak.”
P : “Baik nusre”
N : “Bagaimana kabarnya mba? Saya dengar mbak Yulli sedang merasa cemas, benar begitu mbak? ”
P : “Iya Nurse.”
N : “Kalau saya boleh tahu, mbak Yulli cemas karena apa?”
P : “Emm,, saya bingung nurse, mau menceritakan masalah ini ke siapa lagi. Maka dari itu saya membuat janji dengan Nurse Nisa untuk berkonsultasi.”
N : “Oh, begitu ya mbak? Nah, sekarang mbak Yulli bisa menceritakan kepada saya apa yang sedang terjadi dengan mbak Yulli, mungkin saya bisa membantu.”
P : “Minggu yang lalu saya merasa aneh dengan payudara saya nurse, kemudian saya ke dokter dan ternyata saya terkena kanker mamae stadium awal Nurse”
N : “Selain itu, yang membuat mbak Yulli cemas apa lagi?”
P : “Saya sangat takut sekali jika nanti suami saya tidak sayang lagi dengan saya nurse, dan bahkan mungkin tidak cinta lagi dengan saya.”
N : “Jadi, mbak Yulli terkena kanker mamae dan mbak Yulli takut bila suami mbak Yulli tidak sayang dan cinta lagi dengan mbak Yulli?”
P : “Iya Nurse.”
N : “Mbak Yulli apakah sudah membicarakan masalah ini dengan dengan suaminya?
P : “Belum Nurse, saya tidak berani membicarakannya Nurse.” (sambil menangis)
N : (menyentuh bahu Ny Yulli) “Mbak Yulli sabar ya. Saya mengerti bahwa mbak Yulli pasti merasa sedih. Mbak Yulli tahu atau tidak bahwa kanker mamae stadium awal itu masih bisa di sembuhkan?”
P : “Iya Nurse saya sudah dijelaskan oleh Dokter, tapi yang bikin saya lebih merasa cemas itu suami saya Nurse, saya takut suami saya jadi berubah kalau mengetahui bila saya terkena kanker mamae.”
N : “Lalu, rencana mbak Yulli sendiri apa?”
P : “Saya tidak tahu Nurse (dengan wajah sedih). Saya sudah berhari-hari memfikirkan masalah ini. Setiap malam saya tidak bisa tidur Nurse, saya juga selalu tidak habis kalau makan.”
N : “Bagaimana kalau saya membantu mbak Yulli untuk membicarakan masalah ini dengan suami mbak Yulli?”
P : “Tapi saya takut Nurse.”
N : “Mbak Yulli harus mencoba, nanti bisa jadi suami mbak Yulli lebih marah kalau mengetahui masalah ini dari orang lain. Dengan suami mbak Yulli mengetahui kondisi mbak Yulli saat ini mungkin mbak Yulli dan suaminya bisa merencanakan pengobatan atau tindakan yang bisa dilakukan agar mbak Yulli sembuh. Selain itu mbak Yulli jadi tidak gelisah lagi memikirkan suami mbak Yulli dan lebih fokus menjaga kesehatan mbak Yulli”
P : “Begitu ya Nurse?”
N : “Iya mbak Yulli, agar lebih merasa tenang mbak Yulli bisa tarik nafas terlebih dahulu sebelum berbicara dengan suami mbak Yulli. Sebelum tidur mbak Yulli juga bisa melalukan relaksasi otot agar mbak Yulli bisa tidur dengan nyenyak. Caranya mbak Yulli cukup kepalkan kedua tangan sambil memejamkan mata, kemudian mbak Yulli rasakan semua denyutan yang ada dalam tubuh mbak Yulli. Saya yakin mbak Yulli bisa tidur nyenyak dan relax saat bangun tidur.”
P : “Baik Nurse, tapi saya butuh bantuan Nurse Nisa untuk membicarakan masalah ini dengan suami saya.”
N : “Saya pasti akan membantu mbak Yulli. Emm, Mbak Yulli, setelah berbincang-bincang dengan saya bagaimana perasaan mbak Yulli?”
P : “Saya merasa lega Nurse, saya juga sekarang mempunyai keberanian untuk membicarakan masalah ini dengan suami saya.”
N : “Wah, bagus sekali mbak Yulli. Sebelum kita tutup pertemuan hari ini, mbak Yulli bisa menyimpulkan pembicaraan kita.”
P : “Iya Nurse, jadi kesimpulannya saya harus berfikir positif dan berani mengungkapkan masalah saya dengan suami saya dan saya bisa merencanakan pengobatan untuk penyakit saya. Bila saya merasa takut cukup tarik nafas terlebih dahulu dan saya bisa melakukan relaksasi otot saat mau tidur supaya bisa tidur nyenyak.”
N : “Wah, benar sekali mbak Yulli. Mbak Yulli bisa mengingat semuanya dengan cepat. Mungkin pertemuan hari ini bisa kita cukupkan, saya ucapkan terimakasih kepada mbak Yulli, untuk pertemuan selanjutnya kita akan membicarakan masalah mbak Yulli dengan suaminya. Besok pukul 10.00 WIB di ruangan ini lagi ya mbak. Kalau misalnya mbak Yulli membutuhkan bantuan mbak Yulli bisa menghubungi saya atau bisa datang kesini. Sekali lagi, terimakasih mbak Yulli.”
P : “Iya Nurse, saya juga sangat berterimakasih kepada Nurse Nisa. Selamat siang Nurse. Saya permisi dulu.”
N : “Sama-sama mbak Yulli. Selamat siang”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar