TUGAS DASAR RISET
KONSEP BANJIR
Dosen
Pembimbing : Ns. Dody Setiawan S.Kep,.M.Kep.
Disusun
Oleh:
Eva C.A Panggabean 22020115120007
Khoirun Nisa 22020115120036
Suci Dika 22020115130069
Singkar
Permana Sakti 22020115130104
Kelas :
A. 15 2
DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di
Indonesia, sering terjadi bencana. Salah satunya adalah bencana banjir. Setiap
tahun pasti ada daerah di Indonesia yang terkena banjir. Banjir menjadi suatu
permasalahan rutin yang terjadi setiap musim penghujan. Bahkan di akhir-akhir
tahun ini musim kemaraupun bisa terjadi banjir, karena tahun-tahun ini cuaca
sangat tidak menentu. Bencana tahunan ini sangat meresahkan warga bagi yang
tinggal di wilayah aliran sungai yang sering terjadi banjir. Hal ini
menyebabkan banyak kerugian yang ditimbulkan dari bencana banjir ini.
Terjadinya
bencana banjir disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah terjadi
karena alam atau kehendak dari Tuhan, selain itu terjadi karena ulah manusia
yang tidak peduli dengan lingkungan baik disengaja ataupun tidak. Banjir
menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam beraktifitas, merusak bangunan, jalan,
bahkan akan menimbulkan kerugian materiil yang cukup besar. Terjadinya banjir
menyebabkan lingkungan menjadi kumuh, tergenang air kotor, dan menyebabkan
adanya korban jiwa dan menurunnya kesehatan.
Berbagai
upaya telah dilakukan untuk menangani banjir. Baik hal yang dilakukan oleh
pemerintah ataupun oleh warga sekalipun. Dana yang dikeluarkan juga sudah
banyak terkuras untuk mengatasi terjadinya banjir. Namun di kota-kota besar
justru semakin sering terjadi banjir. Saat hujan turun, air akan langsung
menggenangi jalanan dan rumah warga.
BAB II
ISI
1.
Definisi
Banjir
Banjir adalah suatu kondisi di mana tidak
tertampungnya air dalam saluran pembuang atau terhambatnya aliran air di dalam
saluran pembuang sehingga meluap menggenangi daerah sekitarnya. Banjir juga
merupakan limpasan air yang melebihi tinggi muka air normal sehingga melimpas dari
palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai.
Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal
sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah
serta sistem drainase dangkal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu
menampung akumulasi air hujan tersebut sehingga meluap. (BNPB, 2011)
Karakteristik DAS (daerah aliran banjir) sangat
dipengaruhi oleh letaknya di dalam DAS itu sendiri. Untuk daerah hulu dengan
alur sungai yang relatif curam dan bukit-bukit terjal maka banjir sering
terjadi. Namun pada daerah ini, banjir akan datang dengan waktu yang singkat,
demikian pula dengan waktu berakhirnya karena elevasi daerah yang relatif lebih
tinggi sehingga air banjir dengan mudah mencari alur keluar. Untuk daerah
tengah, banjir yang terjadi datangnya tidak secepat pada daerah hulu, demikian
pula air banjir biasanya masih mudah untuk diatuskan (habisnya jumlah air
karena meresap ke dalam tanah) keluar daerah dengan gaya beratnya sendiri. Pada
daerah hilir, kemiringan dasar sungai maupun kemiringian tanah di kawasan ini
biasanya sangat kecil dan relatif datar. Biasanya waktu datang banjir cukup
lama, namun pengatusan air genangan juga mengalami kesulitan. Hal ini biasanya
disebabkan oleh energi air yang telah mengecil, sehingga air genangan tidak
mungkin diatuskan dengan gaya berat. Jika kondisi ini dibarengi dengan pasang
surut air laut pada kondisi tinggi, maka pengatusan air tanpa bantuan pompa
hampir tidak mungkin. Pada daerah ini penaganan banjir harus mengintegrasikan
pengaruh aliran banjir di sungai dengan hidrodinamika gerakan pasang surut di
laut.
2.
Faktor
Penyebab Banjir
Menurut
Yulaelawati dan Syibab, 2008 penyebab
banjir secara umum dapat dibedakan menjadi 3 faktor sebagai berikut:
a.
Pengaruh
aktifitas manusia
Aktivitas manusia yang dapat
mengakibatkan banjir antara lain adalah pemanfaatan dataran banjir sebagai
pemukiman dan pusat-pusat industri, penggundulan hutan dan membuang sampah pada
saluran-saluran air, terutama di perumahan-perumahan.
b.
Kondisi
alam yang bersifat tetap
Kondisi alam yang bersifat tetap yang
mengakibatkan banjir antara lain adalah kondisi topograp yang cekung dan
kondisi alur sungai yang kemiringan dasar sungai datar, berkelak-kelok, terdapat
sumbatan dan sedimentasi.
c.
Peristiwa
alam yang bersifat dinamis
Peristiwa alam dinamis yang dapat
mengakibatkan banjir antara lain adalah curah hujan yang tinggi, pembendungan
atau arus balik di muara sungai atau pada pertemuan sungai besar, penurunan muka
tanah (amblesan) dan pendangkalan dasar sungai karena sedimentasi yang cukup
tinggi.
3.
Akibat
Yang Ditimbulkan
Kerugian
akibat banjir pada umumnya sulit diidentifikasi secara jelas, dimana terdiri
dari kerugian banjir akibat banjir langsung dan tak langsung. Kerugian akibat
banjir langsung merupakan kerugian fisik akibat banjir yang terjadi, antara
lain robohnya gedung sekolah, industri, rusaknya sarana transportasi, hilangnya
nyawa, hilangnya harta benda, kerusakan di pemukiman,
kerusakan
daerah pertanian dan peternakan, kerusakan sistem irigasi, sistem air bersih, sistem
kelistrikan, sistem pengendali banjir termasukbangunannya, kerusakan sungai.
Sedangkan kerugian akibat banjir tak langsung berupa kerugian kesulitan yang
timbul secara tak langsung diakibatkan oleh banjir, seperti komunikasi,
pendidikan, kesehatan, kegiatan bisnis terganggu.
4.
Management
Bencana Banjir
Menurut
Wesnawa & Cristiawan (2014) tindakan yang harus dilakukan dalam penanganan
bencana antara lain :
Tindakan yang Dilakuan
a. Pra
bencana
Tindakan yang bisa dilakukan pada saat
pra-bencana yaitu pencegahan. Salah satunya adalah dengan menata DAS secara
terpadu dan sesuai fungsi lahan. Kemudian memasang pompa pada daerah yang lebih
rendah dari permukaan DAS atau laut. Penghijauan daerah hulu sungai serta
mengurangi aktivitas di daerah sungai rawan bahaya banjir.
b. Bencana
Yang dapat kita lakukan saat bencana
sudah terjadi adalah dengan mematikan aliran listrik di dalam rumah atau
hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.
Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan
untuk diseberangi. Menghindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari
terseret arus banjir dan segera mengamankan barang-barang berharga, seperti
dokumen dan surat-surat penting ke tempat yang lebih tinggi. Apabila air terus
mengalami kenaikan instansi yang terkait dengan penanggulan bencana.
c. Panca-bencana
Yang kita lakukan setelah banjir adalah
dengan secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup
lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit. Lalu cari dan
siapkan air bersih untuk menghindari penyakit diare yang sering terjangkit
setelah kejadian banjir. Dan tetap waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa
seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa,
lalat, dan nyamuk. Dan usahakan selalu waspada terhadap kemungkinan terjadi
banjir susulan.
5.
Peran
Perawat Komunitas Dalam Manajemen Kejadian Bencana
Perawat komunitas dalam asuhan keperawatan komunitas
memiliki tanggung jawab peran dalam membantu mengatasi ancaman bencana baik
selama tahap preimpact, impact/emergency, dan postimpact
Peran perawat disini bisa dikatakan multiple;
a) Sebagai bagian dari
penyusun rencana.
b) Pendidik.
c) Pemberi asuhan
keperawatan.
d) Bagian dari tim
pengkajian kejadian bencana.
1) Tujuan
utama
Tujuan tindakan asuhan keperawatan komunitas pada
bencana ini adalah untuk mencapai kemungkinan tingkat kesehatan terbaik
masyarakat yang terkena bencana tersebut.
2) Peran
Perawat
a. Peran dalam Pencegahan
Primer
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perawat dalam
masa pra bencana ini, antara lain:
a) Mengenali instruksi
ancaman bahaya.
b) Mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan saat fase emergency (makanan, air, obat-obatan, pakaian dan
selimut, serta tenda).
c) Melatih penanganan
pertama korban bencana.
d) Berkoordinasi
berbagai dinas pemerintahan, organisasi lingkungan, palang merah nasional
maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi
persiapan menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat.
Pendidikan kesehatan diarahkan kepada :
a) Usaha pertolongan diri
sendiri (pada masyarakat tersebut).
b) Pelatihan pertolongan
pertama dalam keluarga seperti menolong anggota keluarga dengan kecurigaan
fraktur tulang , perdarahan, dan pertolongan pertama luka bakar.
c) Memberikan beberapa
alamat dan nomor telepon darurat seperti dinas kebakaran, RS dan ambulans.
d) Memberikan
informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa (misal pakaian seperlunya,
portable radio, senter, baterai).
e) Memberikan
informasi tempat-tempat alternatif penampungan atau posko-posko bencana.
b. Peran Perawat dalam
Keadaan Darurat (Impact Phase)
Biasanya pertolongan pertama pada
korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan stabil.Setelah bencana mulai
stabil, masing-masing bidang tim survey mulai melakukan pengkajian cepat
terhadap kerusakan-kerusakan, begitu juga perawat sebagai bagian dari tim
kesehatan. Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan
tindakan pertolongan pertama.Ada saat dimana ”seleksi” pasien untuk penanganan
segera (emergency) akan lebih efektif. (Triase ).
TRIASE :
a)
Merah
Paling penting,
prioritas utama. keadaan yang mengancam kehidupan sebagian besar pasien
mengalami hipoksia, syok, trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala
dengan kehilangan kesadaran, luka bakar derajat I-II.
b)
Kuning
Penting, prioritas
kedua. Prioritas kedua meliputi injury dengan efek sistemik namun belum jatuh
ke keadaan syok karena dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih dapat bertahan
selama 30-60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang multipel,
fraktur terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat II.
c)
Hijau
Prioritas ketiga. Yang
termasuk kategori ini adalah fraktur tertutup, luka bakar minor, minor
laserasi, kontusio, abrasio, dan dislokasi.
d)
Hitam
Meninggal. Ini adalah
korban bencana yang tidak dapat selamat dari bencana, ditemukan sudah dalam
keadaan meninggal.
c. Peran
perawat di dalam posko pengungsian dan posko bencana
1) Memfasilitasi
jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan sehari-hari.
2) Tetap
menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian.
3) Merencanakan
dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan penanganan kesehatan di RS.
4) Mengevaluasi
kebutuhan kesehatan harian.
5) Memeriksa
dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus bayi, peralatan kesehatan.
6) Membantu
penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit menular maupun kondisi
kejiwaan labil hingga membahayakan diri dan lingkungannya berkoordinasi dengan
perawat jiwa.
7) Mengidentifikasi
reaksi psikologis yang muncul pada korban (ansietas, depresi yang ditunjukkan
dengan seringnya menangis dan mengisolasi diri) maupun reaksi psikosomatik
(hilang nafsu makan, insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot).
8) Membantu
terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat dilakukan dengan memodifikasi
lingkungan misal dengan terapi bermain.
9) Memfasilitasi
konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog dan psikiater.
10) Konsultasikan
bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan kesehatan dan kebutuhan
masyarakat yang tidak mengungsi.
d. Peran
perawat dalam fase postimpact
1) Bencana
tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, sosial, dan psikologis
korban.
2) Selama
masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk kembali pada kehidupan normal.
Beberapa
penyakit dan kondisi fisik mungkin memerlukan jangka waktu yang lama untuk
normal kembali bahkan terdapat keadaan dimana kecacatan terjadi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Banjir
yaitu suatu keadaan dimana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuangan
atau sudah melebihi kapasitas sehingga meluap menggenangi daerah-daerah
sekitar. Faktor penyebabnya bisa karena alam ataupun pengaruh aktifitas
manusia. Perawat juga memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan
ataupun memberikan asuhan keperawatan saat terjadi bencana, serta setelah
terjadi bencana. Jadi, perlu adanya keahlian untuk menangani masalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Efendi,
F & Makfudli. 2009. Keperawatan
kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
3. Wesnawa,
I Gede Astra & Christiawan, Indra Putu.2014.Geografi bencana (edisi pertama).Yogyakarta:Graha Ilmu.
4. Purnomo
Hadi & Sugiantoro Ronny.2010.Managemen
bencana (edisi pertama).Yogyakarta:MedPress.