Selasa, 22 November 2016

Konsep Banjir



TUGAS DASAR RISET
KONSEP BANJIR
 
Dosen Pembimbing : Ns. Dody Setiawan S.Kep,.M.Kep.



Disusun Oleh:
Eva C.A Panggabean              22020115120007
Khoirun Nisa                           22020115120036
Suci Dika                                22020115130069
Singkar Permana Sakti            22020115130104


Kelas               :  A. 15 2


DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di Indonesia, sering terjadi bencana. Salah satunya adalah bencana banjir. Setiap tahun pasti ada daerah di Indonesia yang terkena banjir. Banjir menjadi suatu permasalahan rutin yang terjadi setiap musim penghujan. Bahkan di akhir-akhir tahun ini musim kemaraupun bisa terjadi banjir, karena tahun-tahun ini cuaca sangat tidak menentu. Bencana tahunan ini sangat meresahkan warga bagi yang tinggal di wilayah aliran sungai yang sering terjadi banjir. Hal ini menyebabkan banyak kerugian yang ditimbulkan dari bencana banjir ini.
Terjadinya bencana banjir disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah terjadi karena alam atau kehendak dari Tuhan, selain itu terjadi karena ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan baik disengaja ataupun tidak. Banjir menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam beraktifitas, merusak bangunan, jalan, bahkan akan menimbulkan kerugian materiil yang cukup besar. Terjadinya banjir menyebabkan lingkungan menjadi kumuh, tergenang air kotor, dan menyebabkan adanya korban jiwa dan menurunnya kesehatan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani banjir. Baik hal yang dilakukan oleh pemerintah ataupun oleh warga sekalipun. Dana yang dikeluarkan juga sudah banyak terkuras untuk mengatasi terjadinya banjir. Namun di kota-kota besar justru semakin sering terjadi banjir. Saat hujan turun, air akan langsung menggenangi jalanan dan rumah warga.





BAB II
ISI
1.      Definisi Banjir
Banjir adalah suatu kondisi di mana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuang atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang sehingga meluap menggenangi daerah sekitarnya. Banjir juga merupakan limpasan air yang melebihi tinggi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah di sisi sungai. Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem drainase dangkal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut sehingga meluap. (BNPB, 2011)
Karakteristik DAS (daerah aliran banjir) sangat dipengaruhi oleh letaknya di dalam DAS itu sendiri. Untuk daerah hulu dengan alur sungai yang relatif curam dan bukit-bukit terjal maka banjir sering terjadi. Namun pada daerah ini, banjir akan datang dengan waktu yang singkat, demikian pula dengan waktu berakhirnya karena elevasi daerah yang relatif lebih tinggi sehingga air banjir dengan mudah mencari alur keluar. Untuk daerah tengah, banjir yang terjadi datangnya tidak secepat pada daerah hulu, demikian pula air banjir biasanya masih mudah untuk diatuskan (habisnya jumlah air karena meresap ke dalam tanah) keluar daerah dengan gaya beratnya sendiri. Pada daerah hilir, kemiringan dasar sungai maupun kemiringian tanah di kawasan ini biasanya sangat kecil dan relatif datar. Biasanya waktu datang banjir cukup lama, namun pengatusan air genangan juga mengalami kesulitan. Hal ini biasanya disebabkan oleh energi air yang telah mengecil, sehingga air genangan tidak mungkin diatuskan dengan gaya berat. Jika kondisi ini dibarengi dengan pasang surut air laut pada kondisi tinggi, maka pengatusan air tanpa bantuan pompa hampir tidak mungkin. Pada daerah ini penaganan banjir harus mengintegrasikan pengaruh aliran banjir di sungai dengan hidrodinamika gerakan pasang surut di laut.



2.      Faktor Penyebab Banjir
Menurut Yulaelawati dan Syibab, 2008  penyebab banjir secara umum dapat dibedakan menjadi 3 faktor sebagai berikut:
a.      Pengaruh aktifitas manusia
Aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan banjir antara lain adalah pemanfaatan dataran banjir sebagai pemukiman dan pusat-pusat industri, penggundulan hutan dan membuang sampah pada saluran-saluran air, terutama di perumahan-perumahan.
b.      Kondisi alam yang bersifat tetap
Kondisi alam yang bersifat tetap yang mengakibatkan banjir antara lain adalah kondisi topograp yang cekung dan kondisi alur sungai yang kemiringan dasar sungai datar, berkelak-kelok, terdapat sumbatan dan sedimentasi.
c.       Peristiwa alam yang bersifat dinamis
Peristiwa alam dinamis yang dapat mengakibatkan banjir antara lain adalah curah hujan yang tinggi, pembendungan atau arus balik di muara sungai atau pada pertemuan sungai besar, penurunan muka tanah (amblesan) dan pendangkalan dasar sungai karena sedimentasi yang cukup tinggi.

3.      Akibat Yang Ditimbulkan
Kerugian akibat banjir pada umumnya sulit diidentifikasi secara jelas, dimana terdiri dari kerugian banjir akibat banjir langsung dan tak langsung. Kerugian akibat banjir langsung merupakan kerugian fisik akibat banjir yang terjadi, antara lain robohnya gedung sekolah, industri, rusaknya sarana transportasi, hilangnya nyawa, hilangnya harta benda, kerusakan di pemukiman,
kerusakan daerah pertanian dan peternakan, kerusakan sistem irigasi, sistem air bersih, sistem kelistrikan, sistem pengendali banjir termasukbangunannya, kerusakan sungai. Sedangkan kerugian akibat banjir tak langsung berupa kerugian kesulitan yang timbul secara tak langsung diakibatkan oleh banjir, seperti komunikasi, pendidikan, kesehatan, kegiatan bisnis terganggu.
4.      Management Bencana Banjir
Menurut Wesnawa & Cristiawan (2014) tindakan yang harus dilakukan dalam penanganan bencana antara lain :
Tindakan yang Dilakuan
a.       Pra bencana
Tindakan yang bisa dilakukan pada saat pra-bencana yaitu pencegahan. Salah satunya adalah dengan menata DAS secara terpadu dan sesuai fungsi lahan. Kemudian memasang pompa pada daerah yang lebih rendah dari permukaan DAS atau laut. Penghijauan daerah hulu sungai serta mengurangi aktivitas di daerah sungai rawan bahaya banjir.
b.      Bencana
Yang dapat kita lakukan saat bencana sudah terjadi adalah dengan mematikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi. Menghindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir dan segera mengamankan barang-barang berharga, seperti dokumen dan surat-surat penting ke tempat yang lebih tinggi. Apabila air terus mengalami kenaikan instansi yang terkait dengan penanggulan bencana.
c.       Panca-bencana
Yang kita lakukan setelah banjir adalah dengan secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit. Lalu cari dan siapkan air bersih untuk menghindari penyakit diare yang sering terjangkit setelah kejadian banjir. Dan tetap waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk. Dan usahakan selalu waspada terhadap kemungkinan terjadi banjir susulan.




5.      Peran Perawat Komunitas Dalam Manajemen Kejadian Bencana
Perawat komunitas dalam asuhan keperawatan komunitas memiliki tanggung jawab peran dalam membantu mengatasi ancaman bencana baik selama tahap preimpact, impact/emergency, dan postimpact
Peran perawat disini bisa dikatakan multiple;
a)      Sebagai bagian dari penyusun rencana.
b)      Pendidik.
c)      Pemberi asuhan keperawatan.
d)     Bagian dari tim pengkajian kejadian bencana.
1)      Tujuan utama
Tujuan tindakan asuhan keperawatan komunitas pada bencana ini adalah untuk mencapai kemungkinan tingkat kesehatan terbaik masyarakat yang terkena bencana tersebut.
2)      Peran Perawat
a.    Peran dalam Pencegahan Primer
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra bencana ini, antara lain:
a)      Mengenali instruksi ancaman bahaya.
b)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan saat fase emergency (makanan, air, obat-obatan, pakaian dan selimut, serta tenda).
c)      Melatih penanganan pertama korban bencana.
d)     Berkoordinasi berbagai dinas pemerintahan, organisasi lingkungan, palang merah nasional maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat.
Pendidikan kesehatan diarahkan kepada :
a)      Usaha pertolongan diri sendiri (pada masyarakat tersebut).
b)      Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong anggota keluarga dengan kecurigaan fraktur tulang , perdarahan, dan pertolongan pertama luka bakar.
c)      Memberikan beberapa alamat dan nomor telepon darurat seperti dinas kebakaran, RS dan ambulans.
d)     Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa (misal pakaian seperlunya, portable radio, senter, baterai).
e)      Memberikan informasi tempat-tempat alternatif penampungan atau posko-posko bencana.

b.    Peran Perawat dalam Keadaan Darurat (Impact Phase)
Biasanya pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan stabil.Setelah bencana mulai stabil, masing-masing bidang tim survey mulai melakukan pengkajian cepat terhadap kerusakan-kerusakan, begitu juga perawat sebagai bagian dari tim kesehatan. Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan tindakan pertolongan pertama.Ada saat dimana ”seleksi” pasien untuk penanganan segera (emergency) akan lebih efektif. (Triase ).
TRIASE :
a)      Merah
Paling penting, prioritas utama. keadaan yang mengancam kehidupan sebagian besar pasien mengalami hipoksia, syok, trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan kehilangan kesadaran, luka bakar derajat I-II.
b)      Kuning
Penting, prioritas kedua. Prioritas kedua meliputi injury dengan efek sistemik namun belum jatuh ke keadaan syok karena dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih dapat bertahan selama 30-60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang multipel, fraktur terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat II.
c)      Hijau
Prioritas ketiga. Yang termasuk kategori ini adalah fraktur tertutup, luka bakar minor, minor laserasi, kontusio, abrasio, dan dislokasi.
d)      Hitam
Meninggal. Ini adalah korban bencana yang tidak dapat selamat dari bencana, ditemukan sudah dalam keadaan meninggal.


c.    Peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko bencana
1)      Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan sehari-hari.
2)      Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian.
3)      Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan penanganan kesehatan di RS.
4)      Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian.
5)      Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus bayi, peralatan kesehatan.
6)      Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit menular maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri dan lingkungannya berkoordinasi dengan perawat jiwa.
7)      Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban (ansietas, depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan mengisolasi diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu makan, insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot).
8)      Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat dilakukan dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi bermain.
9)      Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog dan psikiater.
10)  Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi.

d.      Peran perawat dalam fase postimpact
1)      Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, sosial, dan psikologis korban.
2)      Selama masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk kembali pada kehidupan normal.
Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin memerlukan jangka waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat keadaan dimana kecacatan terjadi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Banjir yaitu suatu keadaan dimana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuangan atau sudah melebihi kapasitas sehingga meluap menggenangi daerah-daerah sekitar. Faktor penyebabnya bisa karena alam ataupun pengaruh aktifitas manusia. Perawat juga memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pencegahan ataupun memberikan asuhan keperawatan saat terjadi bencana, serta setelah terjadi bencana. Jadi, perlu adanya keahlian untuk menangani masalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Efendi, F & Makfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

2.      CHRISMANTO.(‎2010).konsepbanjir.2010. Diakses pada : 22 Agustus 2016. Dari: http://eprints.undip.ac.id/34570/6/2087_chapter_III.pdf

3.      Wesnawa, I Gede Astra & Christiawan, Indra Putu.2014.Geografi bencana (edisi pertama).Yogyakarta:Graha Ilmu.

4.      Purnomo Hadi & Sugiantoro Ronny.2010.Managemen bencana (edisi pertama).Yogyakarta:MedPress.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar