Selasa, 22 November 2016

Gastritis



Paper Keperawatan Dewasa I
Gastritis
 
Dosen Pengampu: Ns. Yuni Dwi Hastuti, S.Kep., M.Kep

Disusun Oleh:
Agustin                                   22020115120003
Ayu Dita Handayaningtyas    22020115120023
Khoirun Nisa                           22020115120036
Muhamad Nur Affendi           22020115120048
Feranika Putri Pratiwi             22020115130079

A.15.2
Departemen Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
2016
BAB I
PENDAHULUAN

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat rendah mengenai pentingnya menjaga kesehatan lambung karena gastritis atau sakit maag akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, baik bagi remaja maupun orangdewasa. Gastritis atau dikenal dengan sakit maag merupakan peradangan (pembengkakan) dari mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi dan infeksi (Rahma, dkk, 2013). Bahaya penyakit gastritis jika dibiarkan terus menerus akan merusak fungsi lambung dan dapat meningkatkan risiko untuk terkena kanker lambung hingga menyebabkan kematian.
Gastritis adalah penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat.Insiden gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Gejala penyakit gastritis diantaranya adalah nyeri pada ulu hati, mual, muntah, kembung, diare dan pusing. Gastritis yang tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan berbagai komplikasi diantaranya adalah peptic ulcer, gangguan absorbsi vitamin B12 dan kanker lambung (Handayani, dkk, 2012). Di Indonesia angka kejadian gastritis cukup tinggi. Penelitian ya
ng dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI angka kejadian gastritis dibeberapa kota di Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu di Kota Medan, di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta 50%, Bandung 32,5%, Palembang 35,5%, Aceh 31,7%, dan Pontianak 31,2% (Sulastri, dkk, 2012).
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa keluhan sakit pada penyakit gastritis paling banyak ditemui akibat dari gastritis fungsional, yaitu mencapai 70-80% dariseluruh kasus. Gastritis fungsional merupakan sakit yang bukan disebabkan oleh gangguan pada organ lambung melainkan lebih sering dipicu oleh pola makan yang kurang sesuai, faktor psikis dan kecemasan (Saydam, 2011).



BAB II
ISI

A.    Gastritis
1.      Definisi
Gastritis merupakan inflamasi yang disebabkan karena mukosa lambung yang mengiritasi dan menginfeksi (Saydam, 2011 dalam Rondonuwu dkk, 2014). Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), adanya inflamasi yang terjadi akan mengakibatkan sel darah putih menuju ke lambung sebagai respon terhadap kelainan tadi. Apabila diperiksa secara endoskopi  akan ditemui eritema mukosa dan pada hasil foto memperlihatkan iregularitas mukosa. Gustin (2011), gastritis adalah salah satu masalah pencernaan yang sering terjadi, sekitar 10 % ditemukan adanya nyeri tekan di daerah epigastrium pada saat pemeriksaan fisik.
Gastritis adalah penyakit pada saluran pencernaan dimana terdapat luka atau lecet pada mukosa lambung. Penderita penyakit ini akan merasakan nyeri lambung, mual, mual, muntah, lemas, kembung, terasa sesak, nyeri pada ulu hati, tidak ada nafsu makan, wajah pucat, suhu badan naik, keringat dingin, dan pusing atau bersendawa serta dapat juga terjadi perdarahan pada saluran cerna (Mansyoer, 2001 dalam Sulastri dkk, 2012). Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh kuman helicobakteri pylori (Hirlan, 2009 dalam Angkow dkk, 2014). World Health Organization (WHO) dalam Sulastri, dkk (2012), Indonesia berada pada urutan keempat setelah Amerika Serikat, Inggris dan Bangladesh dimana jumlah penderitanya sebannyak 430 juta penderita.

2.      Penyebab
Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh kuman helicobakteri pylori yang dapat bersifat akut, kronik difus atau lokal (Hirlan, 2009 dalam Angkow dkk, 2014). Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), penyebab gastritis bergantung pada jenis gastritis yang terjadi. Secara klinis, gastritis terbagi atas gastritis akut dan gastritis kronis (Gustin, 2011):
a.      Gastritis akut
Merupakan kelainan akut ddengan penyebab yang jelas dan dengan tanda dan gejala yang khas (Gustin, 2011). Pada kejadian gastritis akut akan ditemukan sel inflamasi akut. Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009) gastritis akut terdiri dari gastritis stres akut, gastritis erosif kronis, dan gastritis eosinofilik.
1)      Gastritis stres akut                        : jenis gastritis yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma secara tiba-tiba.
2)      Gastritis erosif kronis        : gastritis yang diakibatan oleh zat iritan seperti kafein, alkohol, endotoksin bakteri, obat-obatan, da infeksi virus atau bakteri.
3)      Gastritis esinofilik             : terjadi akibat reaksi alergi terhadap cacing gelang yang kemudian ditandai dengan andanya Eosinofil (sel darah putih) yang berkumpul di dinding lambung.
b.      Gastritis kronis
Gastritis kronis merupakan gastritis dengan penyebab yang tidak jelas dan sering bersifat multifactor (Gustin, 2011). Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), gastritis kronis pada umumnya disebabkan oleh kuman Helicobacter Pylori. Gastritis kronis terbagi lagi menjadi gastritis Tipe A dan Tipe B.
1)      Gastritis kronis tipe A       : gastritis yang disebabkan karena usia lanjut sehingga menyebabkan terjadinya atrofi pada sel epitel lambung.
2)      Gastritis kronis tipe B       : disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori.
Menurut Baliwati (2004 dalam Prio, 2009), terjadinya gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak baik dan tidak teratur. Kebiasaan yang kurang baik tersebut meliputi frekuensi makan, jenis, dan jumlah makanan, sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat. Menurut Prio (2009), yang menyebabkan gastritis pada umumnya  adalah obat-obatan (aspirin, obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS)), pengkonsumsian alkohol dan gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung.
Gustin (2011), secara garis besar penyebab gastritis dibedakan berdasarkan zat internal dan zat eksternal. Zat internal yang dimaksudkan adalah kondisi internal yang menjadi penyebab produksi asam lambung yang berlebihan. Sedangkan zat eksternal yaitu zaat yang bersifat iritan dan menginfeksi, misalnya adalah penggunaan obat, makanan yang dikonsumsi, dan kuman.

3.      Patofisiologi
Patofisiologi gastritis terbagi berdasarkan tipe penyakit gastritis, yaitu gastritis akut dan gastritis kronis.
a.      Gastritis Akut
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiitasi mukosa lambung. Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi:
1)   Lambung akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3. Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan & elektrolit.
2)   Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik.
b.      Gastritis Kronik
Gastritis kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan sel chief. Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin dan fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis serta mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi perdarahan serta formasi ulser.

4.      Manifestasi Klinis
Severance (2001) dalam Prio (2009), menyatakan bahwa banyak hal yang dapat memicu gastritis, gejala penyakit ini sama antara satu dengan yang lain. Gejala-gejala berupa perih pada perut bagian atas (abdominal cramping and pain), mual (Nausea), muntah (vomiting), kehilangan selera makan (loss of appetite), kembung (Belching or bloating), akan terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan, dan kehilangan berat badan (weight loss). Gastritis akut biasanya muncul gejala mual dan rasa nyeri seperti terbakar (burning pain) pada perut bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang bertahap akan memiliki gejala rasa sakit yang tumpul (dull pain) pada perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan selera setelah makan beberapa gigitan saja. Menurutn (Jackson, 2006 dalam Prio, 2009), sebagian orang dengan gastritis kronis tidak menyebabkan gejala apapun.

5.      Mekanisme Nyeri, Mual & Muntah pada Gastritis
a.      Nyeri gastritis
Mekanisme terjadinya nyeri pada gastritis adalah akibat dirangsang oleh peregangan (distensi), kontraksi otot dan peradangan yang dirasakan pada daerah epigastrium (Price & Wilson, 2003 dalam Prio 2009). Menurut Guyton & Hall (2007) dalam Prio (2009), terdapat tiga jenis perangsangan nyeri yaitu secara mekanik, suhu/termal dan secara kimiawi. Nyeri yang dikeluhkan oleh penderita gastritis merupakan respon yang dicetuskan oleh rangsangan mekanis dan kimiawi (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009). Rangsangan mekanis dan kimiawi akan diterima oleh reseptor sistem saraf simpatis di lambung (nervus vagus) dan diteruskan ke sistem saraf pusat sehingga dipersepsikan sebagai nyeri (Price & Wilson, 2003; Spiller, 2001 dalam Prio, 2009).
1)      Rangsangan mekanis        
Rangsangan yang akan dirasakan meliputi kontraksi otot lambung dan abdomen sebagai efek stres psikologis serta distensi atau peregangan otot lambung akibat akumulasi gas di lambung (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009). Distensi pada saluran pencernaan akan menginduksi nyeri melalui reseptor saraf simpatis menuju ke sistem saraf pusat (Spiller, 2001 dalam Prio, 2009).
2)      Rangsangan kimiawi
Melalui pengeluaran asam laktat, bradikinin, histamin, zat proteolitik oleh proses degeneratif sel akibat berkurangnya aliran darah ke sel-sel lambung dan abdomen yang disebabkan efek hormon epinephrin dan norepinephrin yang dikeluarkan saat stress atau dapat pula disebabkan oleh kontraksi atau peregangan otot secara terus menerus sehingga menyebabkan spasme pembuluh darah ke lambung (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009).
Kekambuhan yang terjadi pada gastritis akut akan berkembang menjadi gastritis kronik (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009). Hal tersebut dapat disebabkan karena kontak berulang atau peningkatan factor yang menyebabkan kerusakan mukosa lambung yang terdiri dari asam lambung, asam empedu, pepsin, enzim pankreas, infeksi Helicobacter pylory yang bersifat gram-negatif, OAINS (obat anti inflamasi non steroid), alkohol, dan radikal bebas (Pangestu, 2003 dalam Prio, 2009). Episodik berulang atau kekambuhan berulang gastritis juga dapat disebabkan oleh stres psikologis (Prio, 2009).
b.      Respon mual dan muntah
Menurut Prio (2009), adanya respon mual dan muntah yang dirasakan dapat disebabkan oleh stres yang sedang dialami. Wolf (1965, dalam Prio, 2009) meneliti mengenai efek stress pada saluran pencernaan yaitu akan menurunkan saliva, adanya kontraksi yang tidak terkontrol pada esophagus sehingga menyebabkan sulit untuk menelan dan menjadikan rasa mual, meningkatnya asama lambung. Selain itu stres juga mengakibatkan terjadinya konstriksi pembuluh darah di saluran pencernaan, penurunan produksi mukus yang melindungi dinding saluran pencernaan, dan perubahan motilitas usus yang dapat meningkat sehingga menyebabkan diare atau menurun sehingga menyebabkan konstipasi.

6.      Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita gastritis yang tidak terawat antara lain (Prio, 2009):
a.       Adanya peptic ulcers dan pendarahan pada lambung
b.      Gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker lambung, kebanyakan bentuknya adalah adenocarcinomas
c.       Terjadi penipisan dinding lambung
d.      Perubahan pada sel-sel di dinding lambung
e.       Adenocarcinomas tipe 1 akibat infeksi helicobacter pylori
f.       MALT (mucosa associated lymphoid tissue) lymphomas, yaitu kanker jenis lain yang terkait dengan infeksi akibat  helicobacter pylori

7.      Pemeriksaan Penunjang
Gustin (2011), gastritis adalah salah satu masalah pencernaan yang sering terjadi, sekitar 10 % ditemukan adanya nyeri tekan di daerah epigastrium pada saat pemeriksaan fisik. Hal tersebut secara tidak langsung akan mengarahkan dokter untuk mendiagnosa gastritis dengan memastikannya melalui pemeriksaan penunjang lainnya seperti endoscopi. Athiyyah, Darma, Ranuh, & Subijanto (2012), pemeriksaan endoskopi gastrointestinal memungkinkan untuk pemeriksaan bagian dalam traktus gastrointestinal. Sebagian besar endoskopi dilakukan dengan bantuan sejawat anestesiologi. Persiapan dalam pemeriksaan endoskopi tidak terlalu rumit. Pasien diinstruksi untuk puasa selama 6 jam terlebih dahulu. Sebelum pemeriksaan, pasien dan keluarga diinformasikan mengenai tindakan endoskopi yang akan dilakukan, misalnya adalah pasien akan diberikan obat agar pasien tidur dan tidak merasakan sesuatu saat prosedur dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan agar pasien tenang, tidak cemas, dan tidak memberontak saat masuk ruang endoskopi. Terkadang sedasi yang diberikan tidak membuat pasien tidur terlalu dalam sehingga pasien dalam keadaan setengah sadar. Hal tersebut juga bertujuan agar pasien dapat sadar dan pulih kembali. Setelah tindakan tersebut selesai dilakukan, pasien dapat pulang pada sore harinya apabila dalam kondisi yang baik.

8.      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan gastritis terbagi menjadi penatalaksanaan secara farmakologi dan non farmakologi.
a.      Farmakologi
Pengobatan gastritis diberikan bertujuan untuk menghilangkan nyeri, menghilangkan inflamasi dan mencegah terjadinya ulkus peptikum dan komplikasi. Secara patofisiologi terapi farmakologi ditujukan untuk menangani faktor agresif, untuk menangani asam lambung dan memperkuat faktor defensif yaitu untuk ketahanan mukosa. Pengobatan untuk mengurangi asam lambung dilakukan dengan cara menetralkan asam lambung dan mengurangi sekresi asam lambung (Dipiro, 2008 dalam Rondonuwu, 2014). Obat-obat yang digunakan untuk menetralkan asam lambung tersebut adalah antasida, obat penghambat asam, obat penghambat pompa proton, dan  Cytoprotective agents (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
1)   Antasida
Antasida merupakan obat antiulcer yang paling banyak digunakan dalam terapi gastritis yang bertujuan untuk menetralkan asam lambung (Tjay dan Rahardja, 2007 dalam Rondonuwu dkk, 2014). Antasida merupakan obat yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi  (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
2)   Obat penghambat asam
Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), obat penghambat asam akan mengurangi asam lambung dengan cara menutup “pompa” asam dalam sel-sel lambung yang menghasilkan asam.
3)   Obat penghambat pompa proton
Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi asam dimana dengan cara menutup kerja dari “pompa-pompa” asam lambung. Penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik (Jackson,  2006 dalam Prio, 2009).Beberapa jenis obat yang merupakan golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga dapat menghambat kerja Helicobacter  pylori (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
4)   Cytoprotective agents
Merupakan obat obat yang berfungsi melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus kecil. Agen sitoproteksi diberikan kepada penderita gastritis untuk melindungi mukosa lambung dari serangan asam lambung (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014). Obat-obat sitoprotektif digunakan untuk memperkuat defensif mukosa lambung (Dipiro, 2008 dalam Rondonuwu, 2014). Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah sucraflate, misoprostol, dan bismuth subsalicylate. Bismuth subsalicylate juga berfungsi menghambat aktivitas Helicobacter pylori (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
Menurut Rondonuwu, Wullur, & Lolo (2014), terdapat terapi tambahan yang diberikan kepada penderita gastritis. Terapi tersebut adalah pemberian larutan elektrolit, antiemetik, analgesik dan antipiretik, dan antidiare.
1)   Pemberian larutan elektrolit            : bertujuan untuk mengembalikan kekurangan dan kehilangan cairan akibat muntah yang terjadi. Larutan elektrolit yang digunakan berupa infus Ringer Laktat dan oralit.
a)      Infus Ringer Laktat cocok sebagai cairan pengganti parenteral terhadap kehilangan cairan dan elektrolit dari kompartemen ekstraseluler (Kalbemed, 2011 dalam Rondonuwu, 2014).
b)      Oralit diberikan tiap kali pasien muntah. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
2)   Antimetik    : terapi antimetik diberikan kepada penderita gastritis untuk mengatasi keluhan mual dan muntah. Antimetik yang banyak digunakan ialah domperidon (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
3)   Analgesik    : untuk mengatasi demam yang terjadi maka diberi parasetamol yang memiliki dua fungsi yakni sebagai analgesik dan antipiretik (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
4)   Antidiare     : terapi ini diberikan pada pasien yang mengalami diare (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).

Untuk mengatasi infeksi Helicobacter pylori dapat digunakan kombinasi antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Pemeriksaan feces digunakan untuk memastikan sudah hilang atau tidaknya dari bakteri Helicobacter pylori. Untuk hasil yang positif dilakukan pemeriksaan darah (Jackson, 2006 dalam Prio, 2009).
Dalam pemberian terapi farmakologi dapat menimbulkan efek samping. Beberapa diantaranya yang akan dialami oleh penderita yang mengkonsumsinya adalah konstipasi yang disebabkan oleh obat yang mengandung aluminium & kalsium hidroksida. Diare akan muncul karena pemakaian beberaa obat dikarenakan obat mengandung magnesium hidroksida. Dan pemakaian obat yang mengandung magnesium harus dihati-hati atau juga tidak diperbolehkan digunakan untuk penderita gangguan ginjal karena akan meningkatkan kadar magnesium dalam darah (Ridho, 2009).
b.      Non Farmakologi
Menurut Prio (2009), penderita gastritis dapat diberikan terapi utnuk penanganan penyakitnya, misalnya adalah terapi teknik relaksasi. Berikut adalah tujuan dilakukannya terapi relaksasi (Sheridan & Radmacher, 1992 dalam Prio, 2009):
1)      Untuk mengurangi rasa nyeri melalui kontraksi otot,
2)      Mengurangi pengaruh dari efek stres
3)      Mengurangi efek samping dari kemoterapi
Penderita gastritis dapat diberikan terapi teknik relaksasi progresif. Teknik relaksasi progresif disebut juga neuromuscular relaxation, diamna teknik ini bertujuan untuk merelaksasi otot melalui kontrol kerja saraf (Prio, 2009). Menurut Haruki & Ishikawa, 1993 dalam Arakawa, 1995 hal. 45 dalam Prio, 2009 mengemukakan bawa teknik relaksasi progresif dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental. Menurut Segal, (2008) dalam Prio (2009), teknik relaksasi progresif dilaukan dengan cara sebagai berikut:
1)      Memperdalam pernafasan
2)      Mengurangi produksi hormon stress
3)      Menurunkan denyut jantung, dan tekanan darah
4)      Merelaksasikan otot tubuh sehingga semua sistem tubuh yang tegang menjadi seimbang.
Charlesworth & Nathan (1996) dalam Prio (2009), dalam melakukan teknik relaksasi progresif dilakukan dengan teknik kontraksi dan relaksasi yang dilakukan pada setiap kelompok otot secara bergantian. Berikut adalah urutan dalam melakukan teknik relaksasi progresif dimana di setiap urutan dilakukan kontraksi dan relaksasi sebanyak dua kali gerakan selama 5 hitungan:
1)      Dimulai dari kelompok otot pergelangan tangan
2)      Kelompok otot lengan bawah
3)      Kelompok otot lengan atas
4)      Kelompok otot bahu
5)      Kelompok otot wajah
6)      Kelompok otot leher
7)      Kelompok otot punggung
8)      Kelompok otot dada
9)      Kelompok otot perut
Kelompok otot kaki, paha dan bokong
Berikut adalah beberapa manfaat yang ditimbulkan dengan dilakukannya teknik relaksasi progresif (Charlesworth & Nathan, 1996 dalam Prio, 2009)
1)      Relaksasi progresif berguna untuk meningkatkan kesadaran tubuh yaitu melalui relaksasi otot tubuh yang mengalami ketegangan akibat stress
2)      Membantu meningkatkan kemampuan mengontrol ketegangan otot tubuh yaitu dilakukan dengan cara meregangkan bagian tubuh yang tidak dilakukan pergerakan tertentu sambil menegangkan otot yang diperlukan.
3)      Efek secara fisiologis dari relaksasi progresif yaitu akan merilekskan otot yang tegang, relaksasi saluran pencernaan dan kardiovaskular sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi normal, sakit kepala menjadi hilang, pencernaan menjadi normal (Greenberg, 2002 dalam Prio, 2009).
4)      Efek psikologis yang ditimbulkan akan menurunkan kecemasan yang terjadi, menghilangkan depresi, kesulitan tidur menjadi teratasi, dan mengatasi insomnia (Greenberg, 2002 dalam Prio, 2009).
Greenberg (2002) dalam Prio (2009), mekanisme teknik relaksasi progresif dalam menurunankan nyeri gastritis terdiri atas pengaktifan sistem saraf parasimpatis. Pengaktifan saraf parasimpatis secara sadar akan melawan efek negatif dari stres yang timbul di lambung (Greenberg, 2002 dalam Prio, 2009). Sistem saraf parasimpatis akan menyebabkan asam lambung enurun, adanya vasodilatasi kapiler darah di abdomen dan di lambung sehingga terjadi peningkatan aliran darah ke lambung dan abdomen, serta relaksasi otot-otot visceral di lambung dan abdomen (Gupta, 2008 dalam Prio, 2009).
Selain terapi relaksasi progresif juga dapat dilakukan terapi nonfarmakologis lainnya, seperti stimulasi kutan dan massage, terapi panas dan dingin, Transkutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), teknik distraksi, imagery guided, hypnosis (Smeltzer & Bare, 1996 dalam Prio, 2009).

B.     Asuhan Keperawatan Gastritis
Kasus
Tn X 48 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 28 Oktober 2016, Tn X terdiagnosa Gastritis. Klien mengatakan perut sakit. Klien mengatakan 3 hari yang lalu sebelum masuk RS merasakan perutnya sakit dan terasa panas yang disertai dengan mual dan muntah 5x karena merasa tidak kuat dengan keadaannya, kemudian klien dibawa ke RS. saat di periksa tanda-tanda vital yaitu TD:110/70 mmHg, Suhu: 380C, Nadi: 70x/menit, RR: 22x/menit.
1.      Pengkajian
a.       Biodata
1)      Identitas klien
a)      Nama                           : Tn X
b)      Umur                           : 48 Tahun
c)      Jenis Kelamin              : Laki-laki
d)     Agama                         : Islam
e)      Bangsa                                    : Indonesia
f)       Pendidikan Terakhir    : SMA
g)      Pekerjaan                     : Wiraswasta
h)      Alamat                                    : Jl. Melati no 36
2)      Identitas penanggung jawab
a)      Nama/Umur                : Ny. Z / 46 Tahun
b)      Jenis Kelamin              : Perempuan
c)      Bangsa                                    : Indonesia
d)     Pendidikan Terakhir    : SMA
e)      Pekerjaan                     : Ibu rumah tangga
f)       Hubungan dg Klien    : Istri
g)      Alamat                                    : Jl. Melati no 36
b.      Keluhan Utama
Klien mengatakan perut sakit.
c.       Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat Penyakit Sekarang.
Klien mengatakan 3 hari yang lalu sebelum masuk RS merasakan perutnya sakit dan terasa panas yang disertai dengan mual dan muntah 5x karena merasa tidak kuat dengan keadaannya, kemudian klien dibawa ke RS.
2)      Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan sering batuk pilek akan tetapi klien belum pernah dirawat di RS. Klien tidak mempunyai riwayat penyakit menular maupun keturunan (seperti DM, Hipertensi dan sesak napas).
3)      Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti yang dialami klien, anggota keluarga tidak ada yang menderita hipertensi, DM dan penyakit keturunan lainnya.
d.      Pemeriksaan Fisik
1)      Tingkat Ketergantungan
Klien dibantu oleh keluarga saat beraktivitas
2)      Kesadaran Klien
Klien sadar penuh.
3)      Tanda-Tanda Vital
a)      TD       : 110/70 mmHg
b)      Suhu    : 380C
c)      Nadi      : 70x/menit
d)     RR        : 22x/menit
4)      Kepala
a)      Rambut dan Kulit Kepala
1)      Inspeksi     : bentuk kepala mesocephal, kulit kepala bersih, rambutnya lurus, bersih, tidak berketombe.
2)      Palpasi       : tidak ada massa/benjolan, tidak ada nyeri tekan.
5)      Wajah
a)      Inspeksi           : bentuk wajahnya lonjong, kulit wajah bersih tampak kering.
b)      Palpasi             : tidak ada nyeri tekan.
6)      Mata
a)      Inspeksi           : kedua mata simetris, sklera bening tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, bulu mata hitam dan merata, dapat melihat dengan baik.
b)      Palpasi             : tidak ada benjolan pada bulatan kedua bola mata.
7)      Hidung
a)      Inspeksi           : bentuk simetris, tulang hidung lurus, tidak terdapat sekret, tidak ada lesi atau jaringan parut, tidak terdapat polip.
b)      Palpasi             : tidak ada massa/benjolan, tidak ada nyeri tekan.
8)      Mulut
a)      Inspeksi           : bentuk bibir simetris, mukosa bibir kering, mulut bersih, lidah bersih, gigi tampak kuning dan sudah ada yang copot. Tidak ada stomatitis, tidak terjadi pembengkakan tonsil, pergerakan epiglotis normal.
b)      Palpasi             : tidak ada massa/benjolan, tidak ada nyeri tekan.
9)      Telinga     
a)      Inspeksi           : bentuk kedua sisi simetris, bersih, tidak terdapat lesi atau jaringan parut, warna kulit merata.
b)      Palpasi             : daun telinga elastis, tidak terdapat massa atau benjolan. Tidak ada nyeri tekan.
10)  Leher
a)      Inspeksi           : bentuk simetris, warna kulit merata. Tidak ada lesi, nampak pulsasi vena jugularis.
b)      Palpasi             : tidak ada massa/benjolan, tidak terdapat nyeri tekan, teraba vena jugularis.
11)  Dada
a)      Paru-paru
i.         Inspeksi    : pengembangan kedua paru simetris. Irama napas normal.
ii.       Palpasi      : kedua sisi seimbang antara kanan-kiri dan depan-belakang. Getaran taktil fremitus teraba sama.
iii.     Perkusi      : terdengar suara sonor/resonan.
iv.     Auskultasi : terdengar bunyi vesikuler.
b)      Jantung
i.         Inspeksi    : tidak terdapat iktus kordis pada interkosta ke 5.
ii.       Palpasi      : detak jantung terasa dan dapat teraba dengan jelas.
iii.     Perkusi      : tidak ada pembesaran jantung dan terdapat bunyi pekak.
iv.     Auskultasi : bunyi jantung normal BJ 1 lup BJ 2 dup beriringan, tidak terdapat bunyi jantung tambahan.
12)  Abdomen
a)      Inspeksi           : bentuk kulit datar, warna kulit merata, tidak ada lesi/jaringan parut, dan tidak nampak adanya asites.
b)      Auskultasi       : bising usus kurang lebih 8x/menit.
c)      Palpasi             : kulit perut elastis, terdapat nyeri tekan terhadap abdomen. Tidak ada massa/benjolan
d)     Perkusi            : terdengar bunyi timpani
13)  Genitalia
a)      Inspeksi           : tidak terkaji
b)      Palpasi             : tidak terkaji
14)  Ekstermitas Atas
a)      Inspeksi           : kulit klien sawo matang dan merata. Tidak terdapat lesi pada kuku tangan kanan dan kiri, terpasang infus pada lengan kiri bawah.
b)      Palpasi             : klien memiliki akral hangat, tidak terdapat benjolan dan tidak ada nyeri tekan pada kedua sisinya.
15)  Ekstermitas Bawah
a)      Inspeksi           : kedua sisi simetris, pergerakan kaki aktif, kuku kaki bersih, kekuatan otot kurang baik (skala 2).
b)      Palpasi             : tidak ada massa/benjolan, tidaka ada nyeri tekan, akral teraba hangat.
e.       Data Fokus
DS
DO
1)      Klien mengatakan perut sakit.
2)      Klien mengatakan 3 hari yang lalu sebelum masuk RS merasakan perutnya sakit dan terasa panas yang disertai dengan mual dan muntah 5x karena merasa tidak kuat dengan keadaannya, kemudian klien dibawa ke RS.
Suhu tubuh : 380C

2.      Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien gastritis
a.       Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.
b.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
c.       Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
d.      Resiko gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
e.       Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.

Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mengontrol nyeri, dengan kriteria hasil:
·         Mengungkapkan rasa nyeri berkurang
·         Mampu mengidentifikasi nyeri (penyebab, lokasi)
·         Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
·         Mengungkapkan rasa nyaman
·         Tanda tanda vital dalam rentang normal

Pain management
·      Kaji keluhan umum dan TTV
·      Kaji nyeri yang dialami
·      Ajarkan teknik relaksasi
·      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
·      Beri obat sesuai program terapi
·      Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutrnya.
·      Untuk mengetahui apakah sifat nyeri yang dihasilkan oleh keadaan patologis terkait, respon otonom nyeri, atau perilaku
·      Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal
·      Untuk mengurangi rasa nyeri
·      Untuk memberikan obat pada klien sesuai dengan dosis yang diberikan
2.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan status nutrisi klien mendapatkan makanan dan cairan adekuat, dengan kriteria hasil:
·         Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
·         Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
·         Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
·         Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
·         Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

Nutrition Management
·      Kaji kebiasaan makan klien
·      Monitor kalori dan diet intake
·      Menentukan status nutrisi klien dan kemampuan untuk memberikan nutrisi yang lebih
·      Berikan makan sedikit tapi sering
·      Usahakan untuk memberikan makanan kecil setiap kira-kira 1 jam sesuai kebutuhan
·      Timbang berat badan
·      Berikan perawatan oral secara teratur

·      Untuk mengetahui pola makan klien
·      Agar kalori dan intake status nutrisi dapat termonitor dengan baik
·      Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan, juga mencegah distensi gaster
·      Makanan dalam jumlah yang besar mungkin terlalu banyak untuk klien yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan
·      Makanan dalam jumlah yang besar mungkin terlalu banyak untuk klien yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan
·      Untuk mengetahui perkembangan nutrisi klien
·      Meningkatkan nafsu makan lewat oral
3.
Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi

Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mengetahui tentang penyakitnya, dengan kriteria hasil:
·       Klien mendapat informasi mengenai penyakitnya.
·       Klien mengetahui proses terjadinya penyakit
Health Education
·       Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pembelajaran
·       Jelaskan tentang proses terjadinya gastritis sampai menimbulkan keluhan pada klien.  
·       Bantu klien mengidentifikasikan agen iritan.
·       Hindari dan beri daftar agen-agen iritan yang menjadi predisposisi timbulnya keluhan
·       Tekankan pentingnya mempertahankan intake nutrisi yang mengandung protein dan kalori yang tinggi, serta intake cairan yang cukup setiap hari.

·      Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik, emosional, dan lingkungan yang kondusif
·      Pengetahuan klien tentang gastritis dievaluasi sehingga rencana penyuluhan dapat bersifat individual.
·      Menyesuaikan dengan jumlah kebutuhan kalori harian, makanan yang disukai, serta pola makan
·      Meningkatkan partisipasi klien dalam program pengobatan dan mencegah klien untuk kontak kembali dengan agen iritan lambung
·      Klien diberi daftar agen-agen iritan untuk dihindari (misal : kafein, nikotin, bumbupedas, pengiritasi atau makanan sangat merangsang, dan alkohol)
·      Diet tinggi kalori dan tinggi protein dan cairan yang adekuat memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik tubuh. Pendidikan kesehatan tentang hal tersebut meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan penyakitnya
4.
Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.

Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mencapai keseimbangan cairan tidak terjadi, dengan kriteria hasil:
·         Membran mukosa lembab
·         Turgor kulit baik,
·         Elektrolit kembali normal
·         Pengisian kapiler berwarna merah muda
·         Tanda vital stabil,
·         Input dan output seimbang.
Fluid Management
Mandiri:
·      Pelihara daftar intake/pemasukan cairan dengan akurat 
·      Pantau status hidrasi
·      Pantau tanda-tanda vital, yang sesuai
·      Pantau status nutrisi
·      Berikan cairan, yang sesuai
·      Anjurkan pemasukan cairan secara oral
·      Distribusi pemasukan cairan selama 24 jam
·      Pemeliharaan jejak intake dan output cairan perlu dilakukan untuk megetahui bagaimana perkembangan kebutuhan cairan klien
·      Memantau status hidrasi
·      TTV merupakan petunjuk bagi perawat agar tepat dalam mengkaji
·      Memantau status utrisi klien penting agar mengetahui bagaimana kecukupan nutrisi klien
·      Memberikan asupan kepada klien sebagai upaya memulai menjaga keseimbangan cairan
5.
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mengatasi keterbatasan aktifitas, dengan kriteria hasil:
·      Klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.

Pain Management
·     Tingkatkan tirah baring atau duduk
·     Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
·     Batasi pengunjung
·     Dorong penggunaan tekhnik relaksasi
·     Kaji nyeri tekan pada gaster
·     Berikan obat sesuai dengan indikasi

·      Agar fisik klien tidak lemah
·      Agar klien merasa tenang dan nyaman
·      Agar klien bisa beristirahat dengan nyaman
·      Meningkatkan kualitas tidur klien
·      Mengetahui tingkat nyeri klien
·      Agar klien tidur dengan nyenyak



DAFTAR PUSTAKA

Angkow, J., Robot, F., & Onibala, F. (2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis di wilayah kerja puskesmas bahu kota manado. Jurnal Keperawatan, 2 (2).

Athiyyah, A. F., Darma, A., Ranuh, R., & Subijanto. (2012). Peran prosedur endoskopik dalam mendiagnosis gangguan pencernaan pada anak. Jurnal Ners, 7 (2).

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., Wagner, C. M. (2013). Nursing interventions classification (sixth edition). United States: Elsevier.

Gustin, R.K.(2011). Faktor-faktor  yang berhubungan dengan kejadian gastritis pada pasien yang berobat  jalan  di puskesmas gulai buncah kota bukit  tinggi tahun  2011.  Diakses pada 25 Oktober 2016, dari www.unand.ac.id

Herman, T. H.,  Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis keperawatan definisi & klasifikasi (edisi 10). Jakarta: EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing outcomes classification (fifth edition). United States: Elsevier.

Prio, A. Z. (2009). Pengaruh teknik relaksasi progresif terhada gastritis. Diakses pada 25 Oktober 2016, dari  http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124577-TESIS0601%20Asm%20N09p-Pengaruh%20Tehnik-Literatur.pdf

Ridho, D. (2009). Interaksi obat pada pengobatan tukak lambung. Diakses tanggal 27    Oktober 2016, dari: www.googlescholar.com.

Rondonuwu, A. A., Wullur, A., & Lolo, W. A. (2014). Kajian penatalaksanaan terapi pada pasien gastritis di instalasi rawat inap rsup prof dr. r. d. kandou manado tahun 2013. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi, 3 (3).
Sulastri., Siregar, M. A., & Siagian, A. (2012). Gambaran pola makan penderita gastritis di wilayah kerja puskesmas kampar kiri hulu kecamatan kampar kiri hulu kabupaten kampar riau tahun 2012. Jurnal Gizi, Kesehatan Reproduksi, dan Epidemiologi, 1 (2).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar