Paper Keperawatan Dewasa I
Gastritis
Dosen Pengampu: Ns. Yuni Dwi Hastuti, S.Kep., M.Kep
Disusun Oleh:
Agustin 22020115120003
Ayu Dita
Handayaningtyas 22020115120023
Khoirun Nisa 22020115120036
Muhamad Nur Affendi 22020115120048
Feranika Putri
Pratiwi 22020115130079
A.15.2
Departemen Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia masih sangat
rendah mengenai pentingnya menjaga kesehatan lambung karena gastritis atau
sakit maag akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, baik bagi remaja
maupun orangdewasa. Gastritis atau dikenal dengan sakit maag merupakan
peradangan (pembengkakan) dari mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor
iritasi dan infeksi (Rahma, dkk, 2013). Bahaya penyakit gastritis jika
dibiarkan terus menerus akan merusak fungsi lambung dan dapat meningkatkan
risiko untuk terkena kanker lambung hingga menyebabkan kematian.
Gastritis adalah penyakit yang banyak ditemukan di
masyarakat.Insiden gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah
penduduk setiap tahunnya. Gejala penyakit gastritis diantaranya adalah nyeri
pada ulu hati, mual, muntah, kembung, diare dan pusing. Gastritis yang tidak
ditangani dengan benar dapat menimbulkan berbagai komplikasi diantaranya adalah
peptic ulcer, gangguan absorbsi vitamin B12 dan kanker lambung (Handayani, dkk,
2012). Di Indonesia angka kejadian gastritis cukup tinggi. Penelitian ya
ng dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI angka kejadian gastritis
dibeberapa kota di Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu di Kota
Medan, di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta
50%, Bandung 32,5%, Palembang 35,5%, Aceh 31,7%, dan Pontianak 31,2% (Sulastri,
dkk, 2012).
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa keluhan sakit
pada penyakit gastritis paling banyak ditemui akibat dari gastritis fungsional,
yaitu mencapai 70-80% dariseluruh kasus. Gastritis fungsional merupakan sakit
yang bukan disebabkan oleh gangguan pada organ lambung melainkan lebih sering
dipicu oleh pola makan yang kurang sesuai, faktor psikis dan kecemasan (Saydam,
2011).
BAB II
ISI
A. Gastritis
1. Definisi
Gastritis merupakan
inflamasi yang disebabkan karena mukosa lambung yang
mengiritasi dan menginfeksi (Saydam, 2011 dalam Rondonuwu dkk, 2014). Menurut Wibowo
(2007) dalam Prio (2009),
adanya
inflamasi yang terjadi akan mengakibatkan sel darah putih menuju ke lambung
sebagai respon terhadap kelainan tadi. Apabila diperiksa secara endoskopi akan ditemui eritema mukosa dan pada hasil
foto memperlihatkan
iregularitas mukosa. Gustin (2011), gastritis adalah salah satu masalah pencernaan
yang sering terjadi, sekitar 10 % ditemukan adanya nyeri tekan di daerah
epigastrium pada saat pemeriksaan fisik.
Gastritis adalah penyakit pada saluran pencernaan dimana terdapat luka
atau lecet pada mukosa lambung. Penderita penyakit ini akan merasakan nyeri
lambung, mual, mual, muntah, lemas, kembung, terasa sesak, nyeri pada ulu hati, tidak ada nafsu
makan, wajah pucat, suhu badan naik, keringat dingin, dan pusing atau
bersendawa serta dapat juga terjadi perdarahan pada saluran cerna (Mansyoer,
2001 dalam Sulastri dkk, 2012). Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang disebabkan
oleh kuman helicobakteri pylori (Hirlan,
2009 dalam Angkow dkk, 2014). World Health Organization (WHO) dalam Sulastri, dkk (2012), Indonesia
berada pada
urutan keempat setelah Amerika Serikat, Inggris dan Bangladesh dimana jumlah
penderitanya sebannyak 430 juta penderita.
2. Penyebab
Gastritis merupakan
peradangan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh kuman
helicobakteri pylori yang dapat
bersifat akut, kronik difus
atau lokal (Hirlan, 2009 dalam Angkow dkk, 2014).
Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), penyebab gastritis bergantung pada jenis gastritis yang terjadi. Secara
klinis, gastritis terbagi atas gastritis akut dan gastritis
kronis (Gustin, 2011):
a. Gastritis akut
Merupakan kelainan akut ddengan penyebab yang jelas dan dengan tanda dan
gejala yang khas (Gustin, 2011). Pada kejadian gastritis akut akan ditemukan sel inflamasi
akut. Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009) gastritis akut terdiri dari gastritis
stres akut, gastritis erosif kronis, dan gastritis eosinofilik.
1)
Gastritis stres akut :
jenis gastritis yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma secara tiba-tiba.
2)
Gastritis erosif kronis : gastritis yang diakibatan oleh zat iritan seperti kafein, alkohol, endotoksin
bakteri, obat-obatan, da infeksi virus atau bakteri.
3)
Gastritis esinofilik :
terjadi
akibat reaksi alergi terhadap cacing gelang yang kemudian ditandai dengan
andanya Eosinofil
(sel
darah putih) yang berkumpul di dinding lambung.
b. Gastritis kronis
Gastritis kronis merupakan gastritis dengan penyebab yang tidak jelas dan sering bersifat multifactor (Gustin, 2011). Menurut Wibowo
(2007) dalam Prio (2009), gastritis kronis pada umumnya disebabkan oleh kuman Helicobacter Pylori. Gastritis kronis terbagi
lagi menjadi gastritis
Tipe A dan Tipe B.
1)
Gastritis kronis tipe A :
gastritis yang disebabkan karena usia lanjut sehingga menyebabkan terjadinya atrofi pada sel epitel lambung.
2)
Gastritis kronis tipe B :
disebabkan
oleh infeksi Helicobacter pylori.
Menurut Baliwati (2004 dalam Prio,
2009), terjadinya gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak baik
dan tidak teratur. Kebiasaan yang kurang baik tersebut meliputi frekuensi
makan, jenis, dan jumlah makanan, sehingga lambung menjadi sensitif bila asam
lambung meningkat. Menurut Prio (2009), yang menyebabkan gastritis pada
umumnya adalah obat-obatan (aspirin,
obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS)), pengkonsumsian alkohol dan gangguan
mikrosirkulasi mukosa lambung.
Gustin (2011), secara garis besar penyebab gastritis
dibedakan berdasarkan zat internal dan zat eksternal. Zat internal yang
dimaksudkan adalah kondisi internal yang menjadi penyebab produksi asam lambung
yang berlebihan. Sedangkan zat eksternal yaitu zaat yang bersifat iritan dan
menginfeksi, misalnya adalah penggunaan obat, makanan yang dikonsumsi, dan
kuman.
3. Patofisiologi
Patofisiologi gastritis terbagi berdasarkan tipe
penyakit gastritis, yaitu gastritis akut dan gastritis kronis.
a. Gastritis
Akut
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan
mengiitasi mukosa lambung. Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan
terjadi:
1) Lambung
akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3
akan berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3. Hasil
dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka
akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan &
elektrolit.
2) Iritasi
mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang dihasilkan
dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis
dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa
lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan
sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan
menyebabkan nyeri dan hypovolemik.
b.
Gastritis Kronik
Gastritis
kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi
mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna
akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan
sel chief. Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin
dan fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis
serta mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi
perdarahan serta formasi ulser.
4. Manifestasi Klinis
Severance
(2001) dalam Prio (2009), menyatakan bahwa banyak hal yang dapat memicu gastritis,
gejala penyakit ini sama antara satu dengan yang lain. Gejala-gejala berupa perih
pada perut
bagian atas (abdominal cramping and pain), mual (Nausea), muntah (vomiting), kehilangan selera makan (loss of appetite), kembung (Belching or bloating), akan terasa penuh pada perut
bagian atas setelah makan, dan kehilangan berat badan (weight loss). Gastritis akut
biasanya muncul gejala mual dan rasa nyeri seperti terbakar (burning
pain) pada perut bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang bertahap akan
memiliki gejala rasa sakit yang tumpul (dull pain) pada perut bagian atas dan
terasa penuh atau kehilangan selera setelah makan beberapa gigitan saja. Menurutn
(Jackson, 2006 dalam Prio, 2009), sebagian orang dengan gastritis kronis tidak
menyebabkan gejala apapun.
5. Mekanisme Nyeri, Mual &
Muntah pada Gastritis
a. Nyeri gastritis
Mekanisme
terjadinya nyeri pada gastritis adalah akibat dirangsang oleh peregangan (distensi), kontraksi otot dan
peradangan yang dirasakan pada daerah epigastrium (Price & Wilson, 2003 dalam Prio 2009). Menurut Guyton & Hall (2007) dalam Prio
(2009), terdapat tiga jenis
perangsangan nyeri yaitu secara mekanik, suhu/termal dan secara kimiawi. Nyeri yang
dikeluhkan oleh penderita gastritis merupakan respon yang dicetuskan
oleh rangsangan mekanis dan kimiawi (Lewis, Heitkemper & Dirksen,
2000 dalam Prio, 2009). Rangsangan mekanis dan kimiawi akan diterima oleh reseptor sistem
saraf simpatis di lambung (nervus vagus) dan diteruskan ke sistem saraf pusat sehingga dipersepsikan
sebagai nyeri (Price & Wilson, 2003; Spiller, 2001 dalam Prio,
2009).
1)
Rangsangan mekanis
Rangsangan yang akan dirasakan meliputi kontraksi otot lambung dan abdomen sebagai efek stres
psikologis serta distensi atau peregangan otot lambung akibat akumulasi
gas di lambung (Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009). Distensi pada saluran pencernaan akan
menginduksi nyeri melalui reseptor saraf simpatis menuju ke sistem saraf
pusat (Spiller, 2001 dalam Prio, 2009).
2)
Rangsangan kimiawi
Melalui
pengeluaran asam laktat, bradikinin, histamin, zat proteolitik oleh proses degeneratif
sel akibat berkurangnya aliran darah ke sel-sel lambung dan abdomen yang disebabkan
efek hormon
epinephrin dan norepinephrin yang dikeluarkan saat stress atau dapat pula disebabkan
oleh kontraksi atau peregangan otot secara terus menerus sehingga
menyebabkan spasme pembuluh darah ke lambung (Lewis, Heitkemper & Dirksen,
2000 dalam Prio, 2009).
Kekambuhan yang terjadi pada gastritis akut akan berkembang menjadi gastritis kronik
(Lewis, Heitkemper & Dirksen, 2000 dalam Prio, 2009). Hal tersebut
dapat disebabkan karena kontak berulang atau peningkatan factor yang menyebabkan kerusakan
mukosa lambung yang terdiri dari asam lambung, asam empedu, pepsin, enzim pankreas, infeksi Helicobacter
pylory yang bersifat gram-negatif, OAINS (obat anti inflamasi
non steroid), alkohol, dan radikal bebas (Pangestu, 2003 dalam Prio,
2009). Episodik berulang atau
kekambuhan berulang gastritis juga dapat disebabkan oleh stres
psikologis (Prio, 2009).
b. Respon mual dan muntah
Menurut Prio (2009), adanya respon mual dan muntah yang dirasakan dapat disebabkan
oleh stres yang sedang dialami. Wolf (1965, dalam Prio, 2009) meneliti
mengenai efek stress pada saluran pencernaan yaitu akan menurunkan saliva, adanya kontraksi yang tidak
terkontrol pada esophagus sehingga menyebabkan sulit untuk menelan dan menjadikan
rasa mual, meningkatnya asama lambung. Selain itu stres juga mengakibatkan terjadinya
konstriksi
pembuluh darah di saluran pencernaan, penurunan produksi mukus yang
melindungi dinding saluran pencernaan, dan perubahan motilitas usus
yang dapat meningkat sehingga menyebabkan diare atau menurun sehingga
menyebabkan konstipasi.
6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita gastritis yang tidak terawat
antara lain (Prio, 2009):
a.
Adanya peptic ulcers dan pendarahan pada lambung
b.
Gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker lambung, kebanyakan
bentuknya adalah adenocarcinomas
c.
Terjadi penipisan dinding lambung
d.
Perubahan pada sel-sel di dinding lambung
e.
Adenocarcinomas tipe 1 akibat infeksi helicobacter pylori
f.
MALT (mucosa associated lymphoid tissue) lymphomas, yaitu kanker jenis lain yang
terkait dengan infeksi akibat
helicobacter pylori
7. Pemeriksaan Penunjang
Gustin (2011), gastritis adalah salah
satu masalah pencernaan yang sering terjadi, sekitar 10 % ditemukan adanya nyeri tekan di
daerah epigastrium pada saat pemeriksaan fisik. Hal tersebut secara tidak langsung
akan mengarahkan
dokter untuk mendiagnosa gastritis dengan memastikannya melalui pemeriksaan penunjang
lainnya seperti endoscopi. Athiyyah, Darma, Ranuh, &
Subijanto (2012), pemeriksaan endoskopi gastrointestinal memungkinkan untuk
pemeriksaan bagian dalam traktus gastrointestinal. Sebagian besar endoskopi dilakukan dengan bantuan sejawat anestesiologi. Persiapan dalam
pemeriksaan endoskopi tidak terlalu rumit. Pasien diinstruksi untuk puasa
selama 6 jam terlebih dahulu. Sebelum pemeriksaan, pasien dan keluarga
diinformasikan mengenai tindakan endoskopi yang akan dilakukan, misalnya adalah
pasien akan diberikan obat agar pasien tidur dan tidak merasakan sesuatu saat
prosedur dilakukan. Hal tersebut dimaksudkan agar pasien tenang, tidak cemas,
dan tidak memberontak saat masuk ruang endoskopi. Terkadang sedasi yang diberikan tidak membuat pasien tidur
terlalu dalam sehingga pasien dalam keadaan setengah sadar. Hal tersebut juga
bertujuan agar pasien dapat sadar dan pulih kembali. Setelah tindakan tersebut
selesai dilakukan, pasien dapat pulang pada sore harinya apabila dalam kondisi
yang baik.
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan gastritis terbagi menjadi
penatalaksanaan secara farmakologi dan non farmakologi.
a. Farmakologi
Pengobatan gastritis diberikan bertujuan untuk menghilangkan nyeri, menghilangkan inflamasi
dan mencegah terjadinya ulkus peptikum dan komplikasi. Secara
patofisiologi terapi farmakologi ditujukan untuk menangani faktor agresif, untuk
menangani asam
lambung dan memperkuat faktor defensif yaitu untuk ketahanan mukosa. Pengobatan untuk mengurangi asam
lambung dilakukan dengan cara menetralkan asam lambung dan mengurangi sekresi asam lambung (Dipiro, 2008
dalam Rondonuwu, 2014). Obat-obat yang digunakan untuk menetralkan asam lambung
tersebut adalah antasida, obat penghambat asam, obat penghambat pompa proton, dan Cytoprotective agents (Wibowo, 2007
dalam Prio, 2009).
1)
Antasida
Antasida
merupakan obat antiulcer yang paling banyak digunakan dalam terapi gastritis yang bertujuan untuk menetralkan asam lambung
(Tjay dan Rahardja, 2007 dalam Rondonuwu dkk, 2014). Antasida
merupakan obat
yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan umum dipakai untuk mengatasi
gastritis ringan. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit
tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin,
ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang
diproduksi (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
2)
Obat penghambat asam
Menurut Wibowo (2007) dalam Prio (2009), obat penghambat asam akan
mengurangi asam lambung dengan cara menutup “pompa” asam dalam sel-sel lambung yang
menghasilkan asam.
3)
Obat penghambat pompa proton
Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi asam dimana dengan cara menutup kerja dari
“pompa-pompa” asam lambung. Penghambat
pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan
inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik (Jackson, 2006 dalam Prio, 2009).Beberapa jenis obat yang merupakan
golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat
golongan ini juga dapat menghambat kerja Helicobacter
pylori (Wibowo, 2007 dalam Prio, 2009).
4)
Cytoprotective agents
Merupakan obat obat yang berfungsi melindungi jaringan-jaringan yang melapisi
lambung dan usus kecil. Agen sitoproteksi diberikan kepada penderita gastritis
untuk melindungi mukosa lambung dari
serangan asam lambung (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu
dkk, 2014). Obat-obat
sitoprotektif digunakan untuk memperkuat defensif mukosa lambung (Dipiro, 2008
dalam Rondonuwu, 2014). Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah sucraflate,
misoprostol, dan bismuth subsalicylate. Bismuth subsalicylate juga berfungsi
menghambat aktivitas Helicobacter pylori (Wibowo, 2007 dalam Prio,
2009).
Menurut Rondonuwu, Wullur, & Lolo (2014), terdapat terapi tambahan yang
diberikan kepada penderita gastritis. Terapi tersebut adalah pemberian larutan elektrolit, antiemetik, analgesik dan
antipiretik, dan antidiare.
1)
Pemberian larutan elektrolit : bertujuan untuk mengembalikan kekurangan
dan kehilangan
cairan akibat muntah yang terjadi. Larutan
elektrolit yang digunakan berupa infus Ringer Laktat dan oralit.
a)
Infus Ringer Laktat cocok sebagai cairan pengganti parenteral terhadap kehilangan cairan dan
elektrolit dari kompartemen ekstraseluler (Kalbemed, 2011 dalam
Rondonuwu, 2014).
b)
Oralit diberikan tiap kali pasien muntah. Hal tersebut bertujuan untuk
menjaga keseimbangan cairan tubuh (Sukandar et al,
2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
2)
Antimetik : terapi
antimetik diberikan kepada penderita gastritis untuk mengatasi keluhan mual dan muntah. Antimetik yang
banyak digunakan ialah domperidon (Sukandar et al,
2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
3)
Analgesik : untuk mengatasi demam yang
terjadi maka diberi parasetamol yang memiliki dua fungsi yakni sebagai analgesik
dan antipiretik (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
4)
Antidiare : terapi ini
diberikan pada pasien yang mengalami
diare (Sukandar et al, 2009 dalam Rondonuwu dkk, 2014).
Untuk mengatasi infeksi Helicobacter pylori dapat digunakan kombinasi antibiotik dan penghambat
pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Pemeriksaan
feces digunakan untuk memastikan sudah hilang atau tidaknya dari bakteri Helicobacter pylori. Untuk hasil
yang positif dilakukan pemeriksaan darah (Jackson, 2006 dalam Prio,
2009).
Dalam pemberian terapi farmakologi dapat menimbulkan efek samping. Beberapa
diantaranya yang akan dialami oleh penderita yang mengkonsumsinya adalah konstipasi yang disebabkan
oleh obat
yang mengandung aluminium & kalsium hidroksida. Diare akan muncul
karena pemakaian beberaa obat dikarenakan obat mengandung magnesium
hidroksida. Dan pemakaian obat yang mengandung magnesium harus dihati-hati atau juga
tidak diperbolehkan digunakan untuk penderita gangguan ginjal karena akan meningkatkan
kadar magnesium dalam darah (Ridho, 2009).
b. Non Farmakologi
Menurut Prio (2009), penderita gastritis dapat diberikan terapi utnuk
penanganan penyakitnya, misalnya adalah terapi teknik relaksasi. Berikut adalah
tujuan dilakukannya terapi relaksasi (Sheridan & Radmacher, 1992 dalam Prio,
2009):
1)
Untuk mengurangi rasa nyeri melalui kontraksi otot,
2)
Mengurangi pengaruh dari efek stres
3)
Mengurangi efek samping dari kemoterapi
Penderita gastritis dapat diberikan terapi teknik relaksasi
progresif. Teknik relaksasi progresif disebut juga neuromuscular relaxation, diamna teknik ini bertujuan untuk
merelaksasi otot melalui kontrol kerja saraf (Prio, 2009). Menurut Haruki &
Ishikawa, 1993 dalam Arakawa, 1995 hal. 45 dalam Prio, 2009 mengemukakan bawa teknik
relaksasi progresif dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan fisik dan
mental. Menurut Segal, (2008) dalam Prio (2009), teknik relaksasi progresif dilaukan
dengan cara sebagai berikut:
1)
Memperdalam pernafasan
2)
Mengurangi produksi hormon stress
3)
Menurunkan denyut jantung, dan tekanan darah
4)
Merelaksasikan otot tubuh sehingga semua sistem tubuh yang tegang
menjadi seimbang.
Charlesworth & Nathan (1996) dalam Prio (2009), dalam
melakukan teknik relaksasi progresif dilakukan dengan teknik kontraksi dan
relaksasi yang dilakukan pada setiap kelompok otot secara bergantian. Berikut
adalah urutan dalam melakukan teknik relaksasi progresif dimana di setiap
urutan dilakukan kontraksi dan relaksasi sebanyak dua kali gerakan selama 5
hitungan:
1)
Dimulai dari kelompok otot pergelangan tangan
2)
Kelompok otot lengan bawah
3)
Kelompok otot lengan atas
4)
Kelompok otot bahu
5)
Kelompok otot wajah
6)
Kelompok otot leher
7)
Kelompok otot punggung
8)
Kelompok otot dada
9)
Kelompok otot perut
Kelompok
otot kaki, paha dan bokong
Berikut
adalah beberapa manfaat yang ditimbulkan dengan dilakukannya teknik relaksasi
progresif (Charlesworth & Nathan, 1996 dalam Prio, 2009)
1)
Relaksasi progresif berguna untuk meningkatkan kesadaran tubuh yaitu melalui relaksasi otot tubuh yang mengalami
ketegangan akibat stress
2)
Membantu meningkatkan kemampuan mengontrol ketegangan otot tubuh yaitu dilakukan dengan cara meregangkan
bagian tubuh yang tidak dilakukan pergerakan tertentu sambil menegangkan otot yang
diperlukan.
3)
Efek secara fisiologis dari relaksasi progresif yaitu
akan merilekskan
otot yang tegang, relaksasi saluran pencernaan dan kardiovaskular
sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi normal, sakit kepala
menjadi hilang, pencernaan menjadi normal (Greenberg, 2002 dalam Prio,
2009).
4)
Efek psikologis yang ditimbulkan akan menurunkan kecemasan yang terjadi, menghilangkan depresi, kesulitan tidur
menjadi teratasi, dan mengatasi insomnia (Greenberg, 2002 dalam Prio,
2009).
Greenberg (2002) dalam Prio (2009), mekanisme teknik
relaksasi progresif dalam menurunankan nyeri gastritis terdiri atas pengaktifan
sistem saraf parasimpatis. Pengaktifan saraf parasimpatis secara sadar akan
melawan efek negatif dari stres yang timbul di lambung (Greenberg, 2002 dalam
Prio, 2009). Sistem saraf parasimpatis akan menyebabkan asam lambung enurun,
adanya vasodilatasi kapiler darah di abdomen dan di lambung sehingga terjadi
peningkatan aliran darah ke lambung dan abdomen, serta relaksasi otot-otot
visceral di lambung dan abdomen (Gupta, 2008 dalam Prio, 2009).
Selain terapi relaksasi progresif juga dapat dilakukan terapi
nonfarmakologis lainnya, seperti stimulasi kutan dan massage, terapi
panas dan dingin, Transkutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS),
teknik distraksi, imagery guided, hypnosis (Smeltzer & Bare, 1996
dalam Prio, 2009).
B. Asuhan Keperawatan Gastritis
Kasus
Tn X 48 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 28
Oktober 2016, Tn X terdiagnosa Gastritis. Klien mengatakan perut sakit. Klien
mengatakan 3 hari yang lalu sebelum masuk RS merasakan perutnya sakit dan
terasa panas yang disertai dengan mual dan muntah 5x karena merasa tidak kuat
dengan keadaannya, kemudian klien dibawa ke RS. saat di periksa tanda-tanda
vital yaitu TD:110/70
mmHg, Suhu: 380C, Nadi: 70x/menit, RR: 22x/menit.
1. Pengkajian
a.
Biodata
1)
Identitas klien
a)
Nama :
Tn X
b)
Umur :
48 Tahun
c)
Jenis Kelamin :
Laki-laki
d) Agama : Islam
e)
Bangsa :
Indonesia
f)
Pendidikan Terakhir :
SMA
g)
Pekerjaan :
Wiraswasta
h)
Alamat :
Jl. Melati no 36
2)
Identitas penanggung jawab
a)
Nama/Umur :
Ny. Z / 46 Tahun
b)
Jenis Kelamin :
Perempuan
c)
Bangsa :
Indonesia
d) Pendidikan Terakhir : SMA
e)
Pekerjaan :
Ibu rumah tangga
f)
Hubungan dg Klien :
Istri
g)
Alamat :
Jl. Melati no 36
b.
Keluhan Utama
Klien mengatakan perut sakit.
c.
Riwayat Kesehatan
1)
Riwayat Penyakit Sekarang.
Klien mengatakan 3 hari yang lalu sebelum masuk RS
merasakan perutnya sakit dan terasa panas yang disertai dengan mual dan muntah
5x karena merasa tidak kuat dengan keadaannya, kemudian klien dibawa ke RS.
2)
Riwayat Penyakit Dahulu
Klien
mengatakan sering batuk pilek akan tetapi klien belum pernah dirawat di RS.
Klien tidak mempunyai riwayat penyakit menular maupun keturunan (seperti DM,
Hipertensi dan sesak napas).
3)
Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota
keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti yang dialami klien,
anggota keluarga tidak ada yang menderita hipertensi, DM dan penyakit keturunan
lainnya.
d.
Pemeriksaan Fisik
1)
Tingkat Ketergantungan
Klien dibantu
oleh keluarga saat beraktivitas
2)
Kesadaran Klien
Klien sadar penuh.
3)
Tanda-Tanda Vital
a)
TD : 110/70 mmHg
b)
Suhu : 380C
c)
Nadi : 70x/menit
d) RR : 22x/menit
4)
Kepala
a)
Rambut dan Kulit Kepala
1)
Inspeksi : bentuk kepala mesocephal,
kulit kepala bersih, rambutnya lurus, bersih, tidak berketombe.
2)
Palpasi : tidak ada massa/benjolan,
tidak ada nyeri tekan.
5)
Wajah
a)
Inspeksi : bentuk wajahnya lonjong,
kulit wajah bersih tampak kering.
b)
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.
6)
Mata
a)
Inspeksi : kedua mata simetris, sklera
bening tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, bulu mata hitam dan merata,
dapat melihat dengan baik.
b)
Palpasi : tidak ada benjolan pada
bulatan kedua bola mata.
7)
Hidung
a)
Inspeksi : bentuk simetris, tulang
hidung lurus, tidak terdapat sekret, tidak ada lesi atau jaringan parut, tidak
terdapat polip.
b)
Palpasi : tidak ada massa/benjolan,
tidak ada nyeri tekan.
8)
Mulut
a)
Inspeksi : bentuk bibir simetris,
mukosa bibir kering, mulut bersih, lidah bersih, gigi tampak kuning dan sudah
ada yang copot. Tidak ada stomatitis, tidak terjadi pembengkakan tonsil,
pergerakan epiglotis normal.
b)
Palpasi : tidak ada massa/benjolan,
tidak ada nyeri tekan.
9)
Telinga
a)
Inspeksi : bentuk kedua sisi simetris,
bersih, tidak terdapat lesi atau jaringan parut, warna kulit merata.
b)
Palpasi : daun telinga elastis, tidak
terdapat massa atau benjolan. Tidak ada nyeri tekan.
10) Leher
a)
Inspeksi : bentuk simetris, warna
kulit merata. Tidak ada lesi, nampak pulsasi vena jugularis.
b)
Palpasi : tidak ada massa/benjolan,
tidak terdapat nyeri tekan, teraba vena jugularis.
11) Dada
a)
Paru-paru
i.
Inspeksi : pengembangan kedua paru
simetris. Irama napas normal.
ii.
Palpasi : kedua sisi seimbang antara
kanan-kiri dan depan-belakang. Getaran taktil fremitus teraba sama.
iii.
Perkusi : terdengar suara
sonor/resonan.
iv. Auskultasi : terdengar bunyi vesikuler.
b)
Jantung
i.
Inspeksi : tidak terdapat iktus kordis
pada interkosta ke 5.
ii.
Palpasi : detak jantung terasa dan
dapat teraba dengan jelas.
iii.
Perkusi : tidak ada pembesaran
jantung dan terdapat bunyi pekak.
iv. Auskultasi : bunyi jantung normal BJ 1 lup BJ 2 dup beriringan,
tidak terdapat bunyi jantung tambahan.
12) Abdomen
a)
Inspeksi : bentuk kulit datar, warna
kulit merata, tidak ada lesi/jaringan parut, dan tidak nampak adanya asites.
b)
Auskultasi : bising usus kurang lebih
8x/menit.
c)
Palpasi : kulit perut elastis,
terdapat nyeri tekan terhadap abdomen. Tidak ada massa/benjolan
d) Perkusi : terdengar bunyi timpani
13) Genitalia
a)
Inspeksi : tidak terkaji
b)
Palpasi : tidak terkaji
14) Ekstermitas Atas
a)
Inspeksi : kulit klien sawo matang dan
merata. Tidak terdapat lesi pada kuku tangan kanan dan kiri, terpasang infus
pada lengan kiri bawah.
b)
Palpasi : klien memiliki akral
hangat, tidak terdapat benjolan dan tidak ada nyeri tekan pada kedua sisinya.
15) Ekstermitas Bawah
a)
Inspeksi : kedua sisi simetris,
pergerakan kaki aktif, kuku kaki bersih, kekuatan otot kurang baik (skala 2).
b)
Palpasi : tidak ada massa/benjolan,
tidaka ada nyeri tekan, akral teraba hangat.
e.
Data Fokus
|
DS
|
DO
|
|
1)
Klien mengatakan perut sakit.
2)
Klien mengatakan 3 hari yang lalu
sebelum masuk RS merasakan perutnya sakit dan terasa panas yang disertai
dengan mual dan muntah 5x karena merasa tidak kuat dengan keadaannya,
kemudian klien dibawa ke RS.
|
Suhu
tubuh : 380C
|
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien
gastritis
a.
Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.
b.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
c.
Kurang pengetahuan tentang
penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
d.
Resiko gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
e.
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri
akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.
|
Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mengontrol nyeri, dengan kriteria hasil:
·
Mengungkapkan rasa nyeri berkurang
·
Mampu
mengidentifikasi nyeri (penyebab, lokasi)
·
Mampu
mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
·
Mengungkapkan rasa nyaman
·
Tanda tanda
vital dalam rentang normal
|
Pain management
·
Kaji keluhan umum dan TTV
·
Kaji nyeri yang dialami
·
Ajarkan teknik relaksasi
·
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
·
Beri obat sesuai program terapi
|
·
Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutrnya.
·
Untuk mengetahui apakah
sifat nyeri yang dihasilkan oleh keadaan patologis terkait, respon otonom
nyeri, atau perilaku
·
Meningkatkan intake
oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal
·
Untuk mengurangi rasa
nyeri
·
Untuk memberikan obat pada
klien sesuai dengan dosis yang diberikan
|
|
2.
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
|
Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan status nutrisi klien mendapatkan makanan
dan cairan adekuat, dengan kriteria hasil:
·
Adanya
peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
·
Berat badan
ideal sesuai dengan tinggi badan
·
Mampu mengidentifikasi kebutuhan
nutrisi
·
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
·
Tidak terjadi
penurunan berat badan yang berarti
|
Nutrition Management
·
Kaji kebiasaan makan klien
·
Monitor kalori dan diet intake
·
Menentukan status nutrisi klien dan kemampuan
untuk memberikan nutrisi yang lebih
·
Berikan makan sedikit tapi sering
·
Usahakan untuk memberikan
makanan kecil setiap kira-kira 1 jam sesuai kebutuhan
·
Timbang berat badan
·
Berikan perawatan oral
secara teratur
|
·
Untuk mengetahui pola makan klien
·
Agar kalori dan intake status nutrisi dapat termonitor
dengan baik
·
Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
masukan, juga mencegah distensi gaster
·
Makanan dalam jumlah yang besar mungkin terlalu banyak
untuk klien yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan
·
Makanan dalam jumlah yang besar mungkin terlalu banyak
untuk klien yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan
·
Untuk mengetahui perkembangan nutrisi klien
·
Meningkatkan nafsu makan lewat oral
|
|
3.
|
Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
informasi
|
Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mengetahui tentang penyakitnya, dengan
kriteria hasil:
·
Klien mendapat informasi mengenai penyakitnya.
·
Klien mengetahui proses terjadinya penyakit
|
Health Education
·
Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pembelajaran
·
Jelaskan tentang proses
terjadinya gastritis sampai menimbulkan keluhan pada klien.
·
Bantu klien mengidentifikasikan agen iritan.
·
Hindari dan beri daftar
agen-agen iritan yang menjadi predisposisi timbulnya keluhan
·
Tekankan pentingnya
mempertahankan intake nutrisi yang mengandung protein dan kalori yang tinggi,
serta intake cairan yang cukup setiap hari.
|
·
Keberhasilan proses pembelajaran
dipengaruhi oleh kesiapan fisik, emosional, dan lingkungan yang kondusif
·
Pengetahuan klien tentang
gastritis dievaluasi sehingga rencana penyuluhan dapat bersifat individual.
·
Menyesuaikan dengan jumlah
kebutuhan kalori harian, makanan yang disukai, serta pola makan
·
Meningkatkan partisipasi
klien dalam program pengobatan dan mencegah klien untuk kontak kembali dengan
agen iritan lambung
·
Klien diberi daftar
agen-agen iritan untuk dihindari (misal : kafein, nikotin, bumbupedas,
pengiritasi atau makanan sangat merangsang, dan alkohol)
·
Diet tinggi kalori dan
tinggi protein dan cairan yang adekuat memenuhi peningkatan kebutuhan
metabolik tubuh. Pendidikan kesehatan tentang hal tersebut meningkatkan
kemandirian klien dalam perawatan penyakitnya
|
|
4.
|
Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
|
Setelah dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan klien mampu mencapai keseimbangan cairan tidak terjadi,
dengan kriteria hasil:
·
Membran mukosa lembab
·
Turgor kulit baik,
·
Elektrolit kembali normal
·
Pengisian kapiler berwarna merah muda
·
Tanda vital stabil,
·
Input dan output seimbang.
|
Fluid Management
Mandiri:
· Pelihara daftar
intake/pemasukan cairan dengan akurat
· Pantau status hidrasi
· Pantau tanda-tanda
vital, yang sesuai
· Pantau status nutrisi
· Berikan cairan, yang
sesuai
· Anjurkan pemasukan
cairan secara oral
· Distribusi pemasukan
cairan selama 24 jam
|
· Pemeliharaan jejak
intake dan output cairan perlu dilakukan untuk megetahui bagaimana
perkembangan kebutuhan cairan klien
· Memantau status hidrasi
· TTV merupakan petunjuk
bagi perawat agar tepat dalam mengkaji
· Memantau status utrisi
klien penting agar mengetahui bagaimana kecukupan nutrisi klien
· Memberikan asupan kepada
klien sebagai upaya memulai menjaga keseimbangan cairan
|
|
5.
|
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
|
Setelah
dilakukan keperawatan selama 3X24 jam, diharapkan
klien mampu mengatasi keterbatasan aktifitas, dengan kriteria hasil:
·
Klien tidak dibantu oleh keluarga dalam
beraktifitas.
|
Pain Management
·
Tingkatkan tirah baring atau duduk
·
Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
·
Batasi pengunjung
·
Dorong penggunaan tekhnik relaksasi
·
Kaji nyeri tekan pada gaster
·
Berikan obat sesuai dengan indikasi
|
·
Agar fisik klien tidak lemah
·
Agar klien merasa tenang dan nyaman
·
Agar klien bisa beristirahat dengan nyaman
·
Meningkatkan kualitas tidur klien
·
Mengetahui tingkat nyeri klien
·
Agar klien tidur dengan nyenyak
|
DAFTAR PUSTAKA
Angkow, J., Robot, F., & Onibala,
F. (2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis di wilayah
kerja puskesmas bahu kota manado. Jurnal Keperawatan, 2 (2).
Athiyyah, A. F., Darma, A., Ranuh,
R., & Subijanto. (2012). Peran prosedur endoskopik dalam mendiagnosis
gangguan pencernaan pada anak. Jurnal Ners, 7 (2).
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., Wagner,
C. M. (2013). Nursing interventions classification (sixth edition). United
States: Elsevier.
Gustin, R.K.(2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis
pada pasien yang berobat jalan di puskesmas gulai buncah kota bukit tinggi tahun
2011. Diakses pada 25 Oktober
2016, dari www.unand.ac.id
Herman,
T. H., Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis keperawatan definisi &
klasifikasi (edisi 10). Jakarta: EGC.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E.
(2013). Nursing outcomes classification (fifth edition). United States:
Elsevier.
Prio, A. Z.
(2009). Pengaruh teknik relaksasi progresif terhada gastritis. Diakses pada 25
Oktober 2016, dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124577-TESIS0601%20Asm%20N09p-Pengaruh%20Tehnik-Literatur.pdf
Ridho, D. (2009). Interaksi obat pada
pengobatan tukak lambung. Diakses tanggal 27 Oktober
2016, dari: www.googlescholar.com.
Rondonuwu, A. A., Wullur, A., &
Lolo, W. A. (2014). Kajian penatalaksanaan terapi pada pasien gastritis di
instalasi rawat inap rsup prof dr. r. d. kandou manado tahun 2013. Pharmacon
Jurnal Ilmiah Farmasi, 3 (3).
Sulastri., Siregar, M. A., &
Siagian, A. (2012). Gambaran pola makan penderita gastritis di wilayah kerja
puskesmas kampar kiri hulu kecamatan kampar kiri hulu kabupaten kampar riau
tahun 2012. Jurnal Gizi, Kesehatan Reproduksi, dan Epidemiologi, 1 (2).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar